Keuskupan Sibolga

Latest Post



 


Minggu Pra-Paskah III, Tahun A

“Berilah Aku Minum”

Keluaran 17:3-7

Mazmur 95:1.2.6.7.8.9

Roma 5:1-2,5-8

Yohanes 4:5-42

“Lalu datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimbah air. Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!”

(Yohanes 4:7)

***********************************

Beberapa abad yang lalu, hiduplah seorang filsuf Jerman keturunan Yahudi bernama Moses Mendelssohn. Di cerdas yang penuh kasih. Hanya satu kekurangannya: dia bungkuk. Namun dalam kesadaran akan dirinya yang bungkuk inilah, dia jatuh cinta pada Gretchen, seorang wanita muda yang cantik dan menarik, putri seorang bankir kaya.

Beberapa saat Mendelssohn menungguh. Pada suatu saat, dia berani meminta izin kepada ayahnya, sang bankir kaya, untuk menjumpai Gretchen dengan alasan bahwa dia ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Sang ayah memberikan izin kepadanya.

Mendelssohn segera naik ke lantai dua dan menjumpai gadis itu yang sedang sibuk menyulam. Selama percakapan di antara mereka, Gretchen, wanita muda yang cantik dan menarik itu, tidak pernah memandang wajah Mendelssohn.

Akhirnya, percakapan di antara mereka berujung pada persoalan perkawinan. Gretchen bertanya kepada Mendelssohn: “Apakah kamu percaya pada peribahasa lama yang mengatakan bahwa perkawinan itu sudah ditakdirkan dari surga?

Mendelssohn menjawab, “Tentu, saya percaya! Dan justru pada saat kita berbicara mengenai hal ini, saya ingin mengatakan kepadamu bahwa ada kejadian luar biasa yang terjadi pada diri saya. Seperti kita ketakui bersama  bahwa bila ada seorang anak laki-laki lahir, para Malaikat mengumumkan  peristiwa itu agar semua orang bisa mengetahuinya. Anak laki-laki kecil ini ditakdirkan untuk mendapatkan seorang gadis sebagai istrinya. Hal ini sudah ditakdirkan dari atas sehingga tiada seorang pun yang bisa mengubahnya. Maka, ketika saya lahir, para Malaikat mengumumkan mengenai diri saya. Namun, kemudian mereka berhenti dan menambahkan, ‘Tetapi sayang, bakal istri Mendelssohn akan bungkuk.’ Kemudian saya berteriak di hadapan isi Surga, ‘Oh, Tuhan... Jangan! Seorang gadis yang bungkuk akan sangat mudah tersiksa dan terluka batinnya, karena akan menjadi sasaran gurauan banyak orang. Jangan, Tuhan! Gadis itu harus cantik. Tuhan, saya mohon, biarlah saya saja yang bungkuk dan biarkan dia tetap cantik dan bertubuh indah.”

Tahukah kamu, Gretchen? Allah mendengarkan doa saya dan saya merasa gembira. Sayalah anak-laki-laki itu dan kamulah gadis itu!

Sekarang, Gretchen melihat Mendelssohn sebagai sosok laki-laki yang sama sekali berbeda. Akhirnya, dia pun menjadi Istri Mendelssohn yang setia dan penuh kasih...

*********************

Kisah ini memperlihatkan kepada kita sisi perjumpaan yang mempersatukan karena kekuatan batin-rohani yang dinyatakan dalam kesediaan dan kerelaan Gretchen untuk menderita bagi Mendelssohn, seorang pria yang bertubuh bungkuk. Kekuatan itu mengalir dari hatinya yang penuh cinta: di mana ada cinta, di sana ada kesediaan untuk menerima dan memberikan diri demi kebahagiaan pribadi yang dicintai.

Dalam Kitab Kejadian dilukiskan mengenai kisah perjumpaan cinta antara Yakub dengan Rahel, calon istrinya dekat sumur. Dalam perjumpaan itu, Yakub menyatakan isi cintanya dengan mengungkapkan kata-kata rayuan kepada Rahel, bahkan menciumnya. Akhirnya, cinta manusiawi mempersatukan Yakub dan Rachel.

Dalam Injil Yohanes dikisahkan bahwa dekat Sumur Yakub, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan. Sama seperti Mendelssohn dan Yakub yang mendekati wanita pujaan mereka dengan kata-kata rayuan manusiawi, bahkan mencium (Yakub mencium Rahel) karena gerakan cinta manusiawi yang menggelora dalam diri mereka (gerakan cinta dari bawah,  pria dan wanita), Yesus juga mendekati wanita Samaria dengan kata-kata rayuan. Akan tetapi, kata-kata Yesus adalah Rayuan Cinta Ilahi (gerakan cinta dari atas, Allah dan manusia). Yesus berkata kepada wanita itu, “Berilah Aku minum.” Ini adalah rayuan yang penuh kerendahan hati. Rayuan Ilahi, rayuan kerendahan hati ini  bisa diartikan demikian, “Terimalah Aku, walaupun Aku seorang Asing bagimu.”

Mengapa diartikan demikian? Akarnya adalah: Yesus sungguh-sungguh mengetahui bahwa yang merindukan air bukanlah Dia saja, melainkan wanita itu juga. Perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria di Sumur Yakub merupakan pengalaman rohani yang sangat dalam dan penuh makna. Secara bertahap, wanita Samaria mengenal siapakah pria yang sedang berbicara dengannya. Pada awalnya, dia menyapa pria itu sebagai orang Yahudi; kemudian dia menyapa pria itu dengan Tuan, Nabi, Mesias-Kristus dan akhirnya mengalami-Nya sebagai Sang Juruselamat dunia.

Di sumur Yakub terjadi perjumpaan untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Yesus merasa letih dan haus; wanita Samaria datang untuk menimbah air: letih mencari perhentian versus datang mencari sumber; haus versus air, pria versus wanita; orang Yahudi versus Samaria.

Sumur Yakub adalah warisan nenek moyang Israel (Yakub). Warisan ini dimiliki oleh wanita Samaria. Biasanya air sumur tidak mengalir, menggenang statis: sementara sumber air itu mencakup sumur dan air yang mengalir. Wanita Samaria memiliki sumur dan Yesus adalah Sumber Airnya. Awalnya, Yesus merasa haus dan meminta air. Namun, kemudian, wanita Samaria yang menimbah air dan Yesus memberikan Air Kehidupan kepadanya.

Ada sebuah pertukaran kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan antara Yesus dengan wanta Samaria. Yesus haus akan air karena berjalan kesiangan dan keletihan. Sementara wanita Samaria merindukan adanya Sumber Air yang tidak akan pernah habis. Dia merindukan air bagaikan tanah kering dan tandus merindukan air, bagaikan rusa yang mendambakan air. Inilah sikap batin wanita Samaria: dia merindukan dan menantikan Air Hidup.

Pada hari Jumat Agung, kerinduan Wanita Samaria ini terpenuhi karena di Hari yang Agung ini, Yesus akan mengalirkan Air Kehidupan kepadanya dan kepada semua umat manusia. Air Kehidupan itu mengalir dari Lambung/Hati-Nya Tertikam. Air Kehidupan itu adalah Air Kasih.

Yesus tahu bahwa semua manusia merindukan-Nya sebab Dialah Sang Kasih, Sumber Air Kasih bagi semua manusia. Walaupun demikian, Yesus tidak pernah memaksakan setiap manusia untuk menerima Air Kasih-Nya dan mengasihi-Nya. Dia menunggu setiap manusia untuk datang kepada-Nya: Yesus melebihi Sumur Yakub sebab Dia adalah Sumber Air Kasih, Sumber Air Kesegaran, Kehidupan dan Keselamatan yang tidak akan pernah mati.

Yesus sangat berbeda dengan para Nabi dahulu yang cenderung memaksakan manusia untuk mencintai Allah dengan menyebut daftar dosa manusia. Yesus mendekati semua manusia dengan rayuan Cinta Kasih-Nya, yaitu Cinta Ilahi, Cinta yang Merangkul dan Mengampuni semua manusia; Cinta yang Rela Membagi, Memberi dan Mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan bagi semua dan setiap manusia yang bersedia menimbah Air Kesegaran, Air Kehidupan dan Air Keselamatan yang mengalir dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam.

Hati Yesus yang Tertikam di Jumat Agung adalah Sumur yang Mengalirkan Sumber Cinta yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia yang berdosa, sebagaimana Dia mengalirkan daya pengampunan-Nya kepada Wanita Samaria yang memiliki enam orang suami yang sesungguhnya hanyalah selingkuhan, suami simpanan-pelacuran (penyembahan berhala) karena dewa-dewa yang disembah wanita itu dan orang Samaria umumnya adalah dewa-dewi asing.

Daya rangkul dan pengampunan Yesus dinyatakan dalam penyataan diri-Nya sebagai mempelai ketujuh (tujuh sebagai angka sempurna), yaitu sebagai suami yang sesungguhnya. Kalau dihubungkan dengan penyembahan berhala orang Samaria, Yesus (ketujuh) menjadi kesempuraan kultus atau penyembahan. Dia adalah Sang Mempelai yang menjumpai pengantin-Nya di Sumur Yakub. Dia adalah Sang Mempelai yang membiarkan Lambung/Hati-Nya Tertikam agar bisa mengalirkan Sumber Air Kesegaran, Sumber Air Kehidupan dan Keselamatan bagi kita semua, pengantin-Nya.

Berkat penyataan diri Yesus sebagai Sang Mempela dan Sang Sumber Air Kasih, maka perjumpaan di Sumur Yakub berubah menjadi pewartaan. Dalam perjumpaan itu, ada pemulihan hubungan antara mempelai wanita yang telah melacurkan dirinya dengan dewa-dewi lain dengan Mempelainya yang sesungguhnya. Akibat dari perjumpaan rohani ini adalah: wanita Samaria menjadi pewarta pertama kepada kaumnya. Inilah pengalaman rohani yang berimplikasi pada inisiatif untuk tugas pewartaan. Semua pengalaman rohani, pengalaman perjumpaan dengan Tuhan harus diungkapkan dan diwartakan. Pengalaman bersama Tuhan tidaklah egois-individualis, tetapi eklesial dan komunitaris.

Inilah perbedaan antara perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel dengan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria. Perjumpaan antara Mendelssohn-Gretchen, Yakub-Rachel berujung pada persatuan antara kedua pribadi menjadi suami-istri; sedangkan perjumpaan antara Yesus dengan wanita Samaria berujung pada pertobatan, pengakuan iman, persatuan dan pewartaan.

Yesus bekerja dalam diri kita agar perjumpaan kita dengan-Nya, terutama dalam peristiwa Jumat Agung, saat Tuhan memperlihatkan dan mengalirkan dari Lambung/Hati-Nya yang Tertikam Sumber Air Kasih yang memberikan kesegaran, kehidupan dan keselamatan bagi kita, kita pun diberdayakan untuk menjadi Pewarta Kasih yang Mengampuni dan Merangkul semua manusia dalam Kasih-Nya...

Apakah kita bersedia berjumpa dengan Yesus yang Lambung/Hati-Nya Tertikam dan membiarkan Lambung/Hati-Nya yang Tertikam itu Terbuka agar kita bisa melihat dan mengalami kedalaman dan kebesaran Cinta-Nya, yang menjadi Sumber Kesegaran, Kehidupan dan Keselamatan bagi kita serta berusaha mewartakan-Nya sebagai Allah, Sang Cinta yang Menyegarkan, Menghidupkan dan Menyelamatkan melalui perkataan dan perbuatan kita?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica...

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE 52

“SIGNIS Indonesia: Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”

Bandung 24 Februari – 1 Maret 2026.


SIGNIS INDONESIA

Signis adalah Asosiasi Katolik internasional umat beriman untuk Komunikasi. Signis diakui oleh Takhta Suci sebagai Asosiasi Internasional Umat Beriman. Signis memiliki status konsultatif dengan UNESCO, Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Dewan Eropa. Selain Signis internasional ada juga Signis Indonesia. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial serta bagian dari SIGNIS Internasional, jaringan global yang fokus pada pengembangan media beretika, mendukung hak asasi manusia, dan memperkuat komunikasi lintas budaya.


Di Indonesia, Signis bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. SIGNIS Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang komunikasi dan media dalam konteks pelayanan sosial. Para anggota SIGNIS Indonesia tahun 2026 ini mengadakan rapat anggota signis indonesia ke 52 “Signis Indonesia: Artificial Inteligence dalam tantangan iman,”di Bandung 24 Februari - 1 Maret 2026. Artificial Inteligence dalam Terang Iman menjadi peluang dan tantangan komunikasi pastoral khususnya tema penting dalam rapat anggota atau sidang SIGNIS Indonesia ke-52Sidang SIGNIS Indonesia ke-52 yang diadakan di Bandung, Jawa Barat, dari tanggal 24 Februari  sampai 2 Maret 2026, dihadiri oleh 32 anggota, dengan tema Artificial Inteligence dalam Terang Iman: Peluang dan Tantangan Komunikasi Pastoral. 

Dalam khotbahnya, Yang Mulia Mgr. Agustinus, selaku Ketua Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia, menyampaikan bahwa Gereja adalah persekutuan yang Hidup dari komunikasi. Inti dari Gereja adalah persekutuan yang berpusat pada Kristus dan diilhami oleh Roh Kudus. Namun, persekutuan hanya dapat benar-benar terjadi jika ada komunikasi yang lancar. Tanpa komunikasi, misi Gereja tidak akan berdampak, oleh karena itu SIGNIS melambangkan tanda dan api. Signis mewakili kobaran api misi Gereja yang tidak boleh disembunyikan. Komunikasi menjadi ujung tombak untuk membawa semangat dan jiwa Gereja keluar, agar tidak terperangkap di dalam tembok internal dan ego sektoral.

Para peserta mengikuti hari studi sesuai dengan tema pertemuan SIGNIS ke-52 ini, pembicaranya adalah Suryatin Setiawan beserta timnya. Beliau adalah praktisi di bidang teknologi informasi yang menyampaikan presentasi berjudul “Prompt Engineering: Seni Berkomunikasi dengan Teknologi Kecerdasan Buatan.” Dengan semangat persaudaraan dan dalam terang iman, anggota SIGNIS Indonesia mendorong program-program yang akan dilaksanakan dengan fokus pada upaya menjaga keutuhan ciptaan.

Rapat Anggota tahunan ini dibuka secara resmi dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Sejumlah agenda penting mewarnai pertemuan ini, hari studi pertama seminar bersama anggota dari Bapak Hendro Setiawan, hari studi kedua oleh Pastor Noegroho Agoeng, Hari studi ketiga refleksi bersama masing masing regio, hari studi keempat Laporan karya:

A.    Capaian utama tahun 2025-2026

1.     Kerjasama, Kolaborasi dan Jejaring

2.     Pelatihan Media Sosial, Pewartaan Digital, Jurnalisme dan Riset

3.     Pengadaan Alat, Infrastruktur dan Perpanjangan Perizinan

4.     Produksi Film

5.     Workshop dan Waste Management Enterprise

B.    Prioritas lembaga untuk tahun 2026:

1.     Fundraising untuk kemandirian finansial

2.     Pelatihan untuk kaum muda dan perempuan

3.     Pemberdayaan SDM yang professional

4.     Media Misi yang mandiri, kredible dan berkelanjutan

5.     Kemitraan

6.     Pembangunan Infrasturktur

 

C.    Kemudian dilanjutkan dengan Rapat Regio

D.    Program Nasional Informasi Signis Asia - Dunia

E.    Penerimaan Anggota

F.     Pemilihan BP 

AAgenda penting lainnya dalam pertemuan ini adalah pemilihan pengurus periode 2026-2030, sebagai berikut:

Presiden Signis Indonesia 2026- 2030
RD Heribertus Ratu 
Ketua Regio Signis 2026-2030K

Sumatera : RD Adiputra Adrianus Lumban Tobing

Jawa : RD. Reynaldo Antoni Haryanto

Kalimantan : RD. Suhanedi Kusmantoro

Nusa Tenggara : RD. Herman Yoseph Babey

MAM : RD Emanuel ND

Papua : B. Onisemus Sarway

Tim Asistensi

RD. Benedektus Nugroho Susanto

B. Paulus Mashuri

RD. Titus Jatra Kelana

RP. Paulus Tumayang OFM

RD. Yohanes Kari


G.    Pemilihan BP dan Serah Terima

Badan Pengurus Harian

Ketua: RD Heribertus Ratu 
Wakil Ketua: Ibu Bernadetta Widiandajani
Sekretaris: RD Tiburtius Plasidus Mari 
Bendahara: RD Reynaldo Antoni Haryanto

Anggota: RD Suhanedi Kusmantoro

H.    Venue dan Keputusan Rapat

I.      Cultural Visit komunitas Sunda Katolik

J.     Misa Penutup/ Katedral Bandung

Penutup dan Refleksi

               Kemajuan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), menghadirkan peluang dan kejutan yang signifikan. Teknologi ini telah menyentuh dan meresap ke berbagai aspek kehidupan. Munculnya refleksi baru, seperti teologi digital dan ontologi digital, menimbulkan tantangan teologis dan filosofis, mempertanyakan makna realitas hidup di era AI. Namun, Gereja tidak perlu takut atau gentar, selama tetap berpegang teguh pada identitas dan misi Kristus. Untuk tujuan ini, AI adalah produk dari kecerdasan manusia. Manusia dipanggil untuk terus menemukan dan mengembangkan teknologi. Namun, yang terpenting Artificial Inteligence harus berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan firman yang hidup dan berdampak, bukan menggantikan peran manusia atau mengosongkan pesan. Uskup berharap, oleh karena itudiharapkan Artificial Inteligence sebagai alat komunikasi Gereja harus terus membawa energi, makna, dan kekuatan transformatif seperti hujan yang memperkaya bumi. 

    Pertemuan SIGNIS diharapkan bukan hanya sekadar acara formal, tetapi juga percikan yang membangkitkan pelayanan, sehingga lebih banyak orang mengenal dan mengasihi Tuhan. Kehadiran perwakilan SIGNIS dari berbagai keuskupan di Indonesia dimana masing masing diutus baik Komsos dan radio. Dalam refleksi bersama masing masing menunjukkan bagaimana komunikasi Katolik terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman di keuskupannya sendiri.

Poin Pertama:

Pastor Antonius Stephen Lalu, Ketua SIGNIS Indonesia, menjelaskan bahwa para pekerja media Katolik, terdiri dari tim komunikasi sosial (Komsos) dan Radio dari berbagai Keuskupan. Setiap tahunnya SIGNIS Indonesia berkumpul untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat karya pewartaan. Tahun 2026, panitia Signis mengambil tema Artificial Inteligence dalam Tantangan Iman,”. SIGNIS Indonesia ingin menjadi Sains Ignis yakni membawa dan mengomunikasikan tanda-tanda zaman, menyebarkan semangat laksana api yang membakar hati, seperti pengalaman murid-murid Emaus yang berkobar penuh sukacita setelah bertemu Yesus,” ujar Pastor Antonius.

Poin Kedua :

Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo  dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjadi komunikator yang handal di era pengharapan ini. Beliau menekankan bahwa komunikasi yang baik bukan sekadar soal teknologi atau sarana, tetapi lebih pada bagaimana media dapat menciptakan hubungan yang penuh kasih dan relasi yang bermakna. “Kita tentu tidak bisa menjauh dari media komunikasi sosial, tetapi kita harus menggunakannya sebagai alat pewartaan. Jika manusia berjalan dengan kepala tertunduk, tanpa melihat kiri dan kanan, tanpa senyuman, tanpa sapa, tanpa salam maka manusia itu seperti robot yang hidup tanpa hati, maka kita kehilangan esensi komunikasi yang sejati,” ungkap Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo.

Melalui renungan Bapa Uskup, kami disadarkan bahwa Komsos adalah corong pewartaan iman di Keuskupan. Komsos sebagai wadah bagi pengajaran dan refleksi iman yang mampu  menyampaikan warta ke segala penjuru. Pada ahirnya mimpi dan harapan iman sampai pada seluruh umat. Melalui pewartaan yang dipublikasikan melalui media sendiri, maka umat mampu mengetahui segala informasi terbaru perihal peristiwa yang terjadi.

















 




Minggu Pra-Paskah II 01 Maret 2026

Putra Kesayangan Bapa

Kejadian 12:1-4a

Mazmur 33:4.5.18.19.20.22

2 Timoteus 1:8b-10

Matius 17:1-8

********************************

 

Pada suatu ketika, sekelompok orang buta yang ingin mengetahui bagaimanakah rupa seekor gajah diantar ke Kebun Binatang, tempat gajah dirawat. Karena buta, maka mereka tidak bisa menggunakan mata untuk melihat. Agar mereka bisa mengenal bagaimana rupa seekor gajah, maka mereka memohon agar mereka diperkenankan untuk menyentuh dan meraba-raba gajah dengan tangan mereka. Setelah mendapatkan giliran masing-masing, mereka kembali ke tempat mereka.

Orang yang menghantar mereka bertanya kepada mereka bagaimanakah gajah menurut mereka. Setiap orang buta memberikan jawaban yang berbeda.

 

o   Bagi si buta yang memegang telinga gajah, dia berkata bahwa gajah itu seperti nyiru, alat penampih: lebar dan bisa mengipas-ngipas.

o   Bagi si buta yang meraba kaki gajah, dia berkata bahwa gajah itu seperti pohon yang berdiri kokoh. Gajah itu sangat kuat dan tidak akan tumbang.

o   Bagi si buta yang kebetulan memegang gadingnya, dia berkata bahwa gajah itu keras seperti besi.

 

Masing-masing orang buta memberikan gambaran yang berbeda mengenai gajah. Gambaran itu lahir dari pengalaman mereka masing-masing tatkala menyentuh atau merabah salah satu bagian dari tubuh gajah.

*******************

Sama seperti orang buta dalam kisah ini, kita, para pengikut Yesus Kristus zaman ini menggambarkan Wajah-Nya dengan aneka lukisan sesuai dengan pengalaman kita masing-masing. Ada yang menggambarkan Yesus sebagai Gembala yang Baik, Sahabat Orang Berdosa, Raja Orang Yahudi, Orang Nazaret, dan lain-lain. Semua gambaran dan sebutan ini hanya mengungkapkan salah satu kebenaran mengenai Yesus Kristus. Karena itu, kita harus ingat bahwa kebenaran iman mengenai Yesus Kristus justru melampaui semua gambaran kita tentang Dia.

**********************

Dalam kisah Injil Minggu Pra-Paskah II ini, Allah Bapa sendiri menyatakan kepada kita siapakah Yesus yang sesungguhnya sehingga kita tidak perlu meraba seperti orang buta untuk mengenal Allah. Allah Bapa sendiri memperkenalkan bahwa Yesus adalah Putra Kesayangan-Nya. Dia adalah Allah yang Menjelma menjadi Manusia. Hanya melalui Dia, Putra Kesayangan-Nya, kita mengenal Allah.

Penyataan Yesus sebagai Putra Kesayangan Allah itu terjadi dalam situasi yang sangat mempesona dan menakjubkan. Penginjil Matius melukiskannya sebagai berikut: "WajahNya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. Maka tampaklah kepada murid-muridNya Musa dan Elia yang sedang berbicara dengan Dia." Kemudian, mereka mendengar suara Allah yang berseru, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkankah Dia".

Peristiwa ini terjadi  di puncak Tabor, di saat Yesus bergerak menuju Yerusalem. Apa makna peristiwa ini bagi Yesus dan para muridNya?

 

Pertama, peristiwa perubahan rupa Yesus merupakan penyataan diri Yesus yang sesungguhnya. Dia bukanlah manusia biasa. Dia adalah Putra Kesayangan Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia adalah Mesias Penyelamat yang diutus untuk menyatakan cinta dan kemuliaan Allah demi keselamatan manusia. Dalam diri-Nya, Allah membuka selubung rahasia-Nya dengan memancarkan kemuliaan-Nya yang sesungguhnya. Persoalannya, mengapa para Rasul dan kita yang mengikuti-Nya belum percaya bahwa Dia sungguh-sungguh Allah?

 

Kedua, peristiwa ini dinyatakan Allah di saat Yesus akan beranjak menuju Yerusalem untuk memperlihatkan hubungan antara kemuliaan Yesus sebagai Mesias, Anak Kesayangan Allah dengan jalan penderitaan, jalan salib yang harus dilalui-Nya demi keselamatan manusia. Bagi orang Romawi, salib adalah tragedi, tempat hukuman bagi para penjahat. Namun bagi Yesus dan kita, pengikut-Nya, salib merupakan jalan cinta dan korban demi kemenangan, keselamatan dan kemuliaan. Bagi Yesus dan kita, pengikutNya, jalan penderitaan dan salib bukanlah jalan yang hina, melainkan jalan menuju kemenangan, keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan. Inilah logika Allah yang harus didengar dan dimengerti oleh kita semua, ciptaan-Nya, terutama pengikut yang setia kepada-Nya.

 

Ketiga, kenyataan bahwa Yesus adalah Anak Kesayangan Allah sama sekali tidak membebaskan-Nya dari jalan penderitaan dan salib. Cinta Bapa terhadap Putra Kesayangan-Nya sama sekali tidak disurutkan atau dikurangi oleh penderitaan dan salib Putra-Nya. Allah justru menunjukan keagungan dan kemuliaan cinta-Nya kepada kita, manusia dalam kerelaan Putra Kesayangan-Nya untuk menjalani penderitaan dengan memanggul salib karena kejahatan dan dosa kita demi keselamatan kita. Melalui jalan penderitaan dan salib, Putra Kesayangan Allah menyatakan bahwa mencinta manusia bukan berarti harus mengakhiri dan melenyapkan penderitaan kita, melainkan turut menderita dan turut menanggung penderitaan kita. Apabila Putra Kesayangan Allah hadir untuk melenyapkan penderitaan kita berarti Dia tidak menghendaki kita menjadi manusia. Penderitaan tidak harus dilenyapkan sebab melenyapkan penderitaan dan salib berarti melenyapkan kemanusiaan kita. Penderitaan dan salib bukan berasal dari Allah, melainkan berasal dari kodrat kemanusiaan kita: Kita adalah ciptaan. Kita terbatas, rapuh dan lemah. Kita menderita karena adanya kekurangan dan keterbatasan dalam diri kita sebagai ciptaan.

 

Ingatlah:

Tiada seorang manusia yang sempurna. Hanya Allah sendirilah yang sempurna dan tidak terbatas. Penderitaan justru terjadi karena kita tidak menerima keterbatasan kita sebagai ciptaan. Apakah kita sadar bahwa virus corona menjadi bukti nyata bahwa manusia China di Wuhan ingin menunjukan kehebatan mereka dalam semua bidang kehidupan, termasuk dalam pembangunan pusat nuklir supaya mereka bisa menguasai dunia. Pipa nuklir bocor dan akibatnya racun nuklir menyebarkan virus corona. Manusia Wuhan dan dunia menjadi korban karena manusia China tidak mengakui keterbatasan mereka. Inilah sumber penderitaan dan salib bagi manusia yang sesungguhnya, bukan Allah.

 

Keempat, demi keselamatan kita, ciptaan yang terbatas, Putra Kesayangan Allah harus menjadi manusia dan harus menderita. Dengan menjadi Manusia, Putra Kesayangan Allah yang tidak terbatas menjadikan diri-Nya terbatas dalam daging manusiawi, menjadi lemah dan tidak berdaya. Justru dalam keterbatasan, kelemahan dan ketidakberdayaan-Nya di jalan penderitaan dan salib, Dia yang menanggung penderitaan dan salib kita menyatakan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas, dasyat, mulia dan menyelamatkan. KemuliaanNya di Tabor adalah Pancaran Kemuliaan dan Keagungan Kebangkitan-Nya. Inilah jalan penderitaan dan salib Anak Kesayangan Allah: jalan menuju kemuliaan. Jalan inilah yang harus diikuti oleh kita, manusia yang terbatas. Jalan inilah yang dinyatakan Allah dalam gema suaraNya: Dengarkanlah Dia..

Jalan penderitaan dan salib Putra Kesayangan Allah adalah jalan kita, jalan semua manusia. Apabila Putra Kesayangan Allah, Sang Guru bagi semua manusia rela melalui jalan penderitaan dan salib sebelum memperoleh kemenangan dan kemuliaan, maka jalan yang sama harus menjadi jalan kita.

 

Ingatlah:

o   Tiada kemenangan, keberhasilan, keselamatan dan kebahagiaan tanpa kerelaan dan kesabaran untuk memanggul salib (tanggung jawab) kita masing-masing.

o   Tiada Paskah tanpa Jumat Agung.

o   Tiada kemuliaan Tabor tanpa kerelaan untuk turun dan beranjak sambil memikul salib menuju Yerusalem.

o   Paskah Kemenengan, Kebangkitan dan Kemuliaan hanya diraih apabila ada cinta korban di Jumat Agung.

 

Di jalan penderitaan dan salib, kita menemukan sosok Allah yang sesungguhnya. Di jalan penderitaan dan salib, kita dan semua manusia menemukan kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Relakah kita memikul salib, melalui jalan penderitaan untuk menemukan kemuliaan Tabor, kemuliaan kita sebagai ciptaan Allah yang kudus dan mulia?

*******************

Sidharta Gautama hidup di masa yang sama dengan Yeremia. Mereka berdua dianugerahi “penglihatan” 500 tahun ke depan mengenai datangnya Juru Selamat. Di salah satu kutipan Kitab Suci agama Buddha yang tertulis di Tembok Vihara di Chiang Mai terpahat tentang hal ini.

Ada seorang pendeta Hindu bertanya kepada  Sidharta Gautama, Gurunya “Apakah Perbuatan Baik bisa menghapus dosa?

Sidharta Gautama menjawab, “Dosa tidak bisa dihapus dengan perbuatan baik. Itu hanya mengubah statusmu menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan statusmu pada saat dilahirkan di bumi. Akan tetapi, kamu tetap akan jauh dari Pintu Surga.”

Pendeta Hindu itu bertanya lagi, “Bagaimanakah dosa-dosa kami dihapus supaya Reinkarnasi berhenti dan kami bisa masuk Surga.”

Sidharta Gautama menjawab, “Nanti akan datang seorang Penyelamat manusia yang bisa menghapus dosa sehingga kamu bisa masuk Surga. Ikutlah dia dan tinggalkan cara cara lamamu. Semua itu tidak akan menyelamatkan..”

Pendeta itu bertanya lagi, “Bagaimana ciri si Penyelamat itu?

Sidharta Gautama menjawab, “Orang itu di tangan dan kakinya ada lubang bekas Kung Ca <sebutan satu benda masa itu yang bentuknya seperti Paku Besar> dan lambung nya berlubang seperti bekas ditusuk.”

Namun, ayat yang tertulis dalam Kitab Tripitaka ini dibuang di seluruh dunia karena takut kalau orang Buddha akan menjadi Kristen.

Akan tetapi, jejak dari isi kata-kata yang ada dalam Seluruh Kitab Tripitaka yang diukur di dinding sebuah Vihara/Kuil di Chiang Mai ini tidak bisa terhapuskan. Kenyataan ini memperlihatkan bahwa Buddha menubuatkan kedatangan Yesus Kristus. Buddha yang hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Yeremia dan Yehezkiel sekitar 500 SM justru menuntut murid-muridnya untuk menunggu kedatangan Yesus Kristus.

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica...

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget