Keuskupan Sibolga

Latest Post


Pertemuan On Going Formation (OGF) Regio Sumatera 2026 bertema “Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan” dilaksanakan pada 23–27 Februari 2026 di Hotel Axana, Padang. Kegiatan ini dihadiri oleh uskup dan imam diosesan (tahbisan 21+ tahun) se-Sumatera, dibuka oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin. 

Detail Utama OGF Regio Sumatera 2026:

Waktu: 23–27 Februari 2026.

Lokasi: Ballroom Hotel Axana, Padang.

Tema: “Bersukacitalah Senantiasa dalam Tuhan” (Flp. 4:4).

Peserta: Uskup dan Imam Diosesan Regio Sumatera (usia tahbisan 21 tahun ke atas).

Agenda: Misa pembukaan, sesi pembinaan, dan ibadat. 

Misa pembukaan pada 23 Februari 2026 dipimpin oleh Uskup Keuskupan Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, didampingi Uskup Agung Medan (Mgr. Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap.), Uskup Agung Palembang (Mgr. Yohanes Harun Yuwono), dan Uskup Tanjungkarang (Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo). 

Sesi pertama dibawakan oleh Mgr. Vitus Rubianto Solichin mengenai “Memaknai Bersukacita dalam Panggilan menurut Kitab Suci” 

"Yesus kadang hadir dalam situasi atau wajah orang-orang yang sering kita tidak duga. Menemukan wajah Tuhan dalam wajah diri orang paling hina membutuhkan sikap batin dan pergumulan. Mereka yang tulus melayani Tuhan dalam diri orang-orang yang paling kecil mampu menemukan sukacita dalam pelayanan, yang justru sering mereka tidak sadari telah melakukan perbuatan baik kepada Tuhan sendiri"

Demikian isi ringkas kotbah Mgr. Vitus Subianto Solichin, SX pada misa pembukaan Pertemuan On Going Formation Imam-Imam Diosesan Keuskupan-Keuskupan se-regio Sumatera yang dilangsungkan di Katedral St. Theresia Lieseux, Padang, Senin (23/02). 

Hadir dalam misa pembukaan empat orang Uskup se-Regio Sumatera: Mgr. Vitus, Uskup Keuskupan Padang; Mgr. Cornelius Sipayung, OFM Cap, Uskup Agung Keuskupan Medan; Mgr. Yohanes Harun Yuwono, Uskup Agung Keuskupan Palembang; Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo, Uskup Keuskupan Tanjung Karang, Mgr. Adrianus Sunarko. Hadir juga sebagai tamu kehormatan RD. Maxi Un Bria, Ketua Unio Indonesia (Unindo).

Para imam yang hadir dari keenam Keuskupan di Regio Sumatera adalah mereka yang usia Tahbisan imamatnya sudah 21 tahun ke atas, berjumlah 86 orang. Seorang Uskup dan beberapa imam lain karena perubahan jadwal pesawat, terpaksa tidak bisa hadir pada misa pembukaan ini, baru bisa bergabung dalam acara hari berikutnya. 

Selain para Uskup dan para imam misa ini juga dihadiri oleh para Suster dan awam umat Paroki Katedral St. Theresia Padang, serta dimeriahkan dengan koor yang dibawakan anak-anak didik Seminari Menengah Maria Nirmala, Padang. 

Dalam kata sambutannya, RD. Bagus menyambut kehadiran para peserta dan para Uskup serta berharap Pertemuan On Going Formation dapat berlangsung dengan baik dan para peserta selalu semangat menjalani kegiatan-kegiatan dalam suka cita hari demi hari.

Misa ini diakhiri acara pembukaan kata-kata sambutan dan pemukulan gong sebagai tanda pembukaan Pertemuan On Going Formation.




Pertemuan SIGNIS Regio Sumatera

“Framing dan Konvergensi Media Pastoral”

(Romo Adrian Tobing)

Pengantar :

Framing  dan Konvergensi adalah tema besar yang menjadi inspirasi pertemuan bersama anggota SIGNIS Keuskupan Se-Regio Sumatera. Framing merupakan proses penentuan cara menyajikan informasi dengan menyoroti aspek-aspek tertentu, menggunakan kata-kata atau sudut pandang spesifik, untuk mampu memengaruhi audiens agar memahami dan langsung bereaksi terhadap suatu isu atau peristiwa. Sementara itu, konvergensi dalam konteks media merujuk pada penggabungan berbagai jenis media dan teknologi komunikasi, di mana konten dapat diakses melalui berbagai platform (kerangka kerja). Informasi dibingkai dalam konteks tertentu, sehingga media menyajikan realitas dengan penekanan pada aspek tertentu untuk membentuk pemahaman yang diinginkan. Maka diharapkan agar setiap Keuskupan harus memiliki media sosial sebagai sarana informasi untuk menyuarakan iman ke seluruh umat.

Point Pertama :

Setelah penyambutan dan registrasi para peserta oleh panitia, dilanjutkan Ekaristi bersama yaitu Misa Pembukaan Pelatihan SIGNIS Regio Sumatera. Dalam renungan Mgr. Adrianus Sunarko “Spes et confundi dalam konteks Maria Berdukacita merujuk pada peran Bunda Maria dalam menghadapi penderitaan Yesus yang begitu mendalam, di mana ia berdiri teguh pada imannya meskipun dipenuhi dukacita yang mengiris hati. 

Maria adalah saksi yang mulia, dimana Maria mengajarkan kita untuk memiliki iman yang kuat di tengah penderitaan dan tetap berharap, karena penderitaan bukan akhir, melainkan jalan menuju kebangkitan. Kita diundang untuk belajar dari keteguhan Maria, memohon kekuatannya untuk menghadapi duka, serta menyerahkan diri kepada perlindungan Maria yang mendampingi dan membawa kita kepada Yesus, Putranya. Pokok-pokok Renungan Spes et confundi, Dukacita dan Iman yang teguh.

Penderitaan dan Harapan yang dapat kita renungkan ini menekankan bahwa harapan (spes) dan kebingungan atau kepedihan (confundi) hidup berdampingan. Meskipun penderitaan itu nyata dan menyakitkan, Maria mengajarkan kita untuk tidak putus asa, tetapi tetap berharap akan pemulihan dan kebangkitan yang dijanjikan Tuhan. Kita bisa mengarahkan pandangan kita kepada Maria, yang memahami perjuangan kita dan akan membimbing kita kepada Yesus. 

 

 

 

 

 

Point Kedua :

Perkenalan dari setiap Keuskupan ada 6 Keuskupam,

Keuskupan Agung Medan    : 2 Peserta,

Keuskupan Sibolga               : 5 Peserta,

Keuskupan Padang               : 2 Peserta,

Keuskupan Palembang         : 5 Peserta,

Keuskupan Tanjung Karang : 5 Peserta dan,

Keuskupan Pangkal Pinang : 10 Peserta

Poin Ketiga:

Kata Sambutan dari Romo Anton Moa. Romo Anton Moa sekaligus juga Vikjen Keuskupan Pangkal Pinang menyambut para peserta dengan penuh sukacita. Beliau berpesan semoga melalui pertemuan “Pelatihan SIGNIS Regio Sumatera ini, para pengurus SIGNIS Keuskupan bersama Para Volunteer mampu membawa sukacita melalui media sosial Keuskupan masing masing. Menjadi pembawa kebenaran berita dan mampu menganalisis tanda tanda zaman sebagai pewartaan yang nyata.

Point Keempat :

Kata Sambutan dari Ketua Signis Regio Sumatera Romo Kornelius Anjarsi, menegaskan agar setiap pengurus dan utusan dari setiap Keuskupan se-Regio Sumatera sungguh-sungguh membawa sukacita dan melalui media sosial mampu menyampaikan pemberitaan yang benar dan penuh dengan iman. Romo Kornelius Anjarsi juga menyampaikan thema pertemuan SIGNIS 2023 di Ruteng yakni “Media dan Ekologi” , Pertemuan SIGNIS 2024 di Rapat Anggota Signis Indonesia Ke 51 “SIGNIS Indonesia Berziarah Bersama dalam Pengharapan,” di Palembang 17-21 Februari 2025. Maka dalam diskusi bersama para ketua SIGNIS / Komsos Keuskupan se-Regio Sumatera mengambil thema “Framing dan Konvergensi media pastoral” di Keuskupan Pangkal Pinang tanggal 15-17 September 2025. Ketua SIGNIS Regio Sumatera sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Point Kelima :

Mgr. Adrianus Sunarko, Memperkenalkan Situasi Keuskupan Pangkal Pinang. Keuskupan Pangkalpinang adalah Keuskupan sufragan di Indonesia yang melayani umat Katolik di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Keuskupan ini berdiri sebagai Prefektur Apostolik pada tahun 1923, kemudian menjadi Vikariat Apostolik pada 1951, dan akhirnya Keuskupan pada tahun 1961. Sekarang Keuskupan Pangkalpinang merupakan bagian dari Provinsi Gerejawi Keuskupan Agung Palembang. 

A. Sejarah Singkat 

·         1923: Berdiri sebagai Prefektur Apostolik Bangka-Biliton, terpisah dari Prefektur Apostolik Sumatra.

·         1951: Statusnya ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Pangkalpinang.

·         1961: Ditingkatkan lagi menjadi Keuskupan Pangkalpinang.

·         2003: Pergantian metropolit dari Keuskupan Agung Medan ke Keuskupan Agung Palembang.

B. Wilayah Pelayanan 

·         Keuskupan ini mencakup seluruh wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.

C. Pimpinan Keuskupan 

·         Saat ini, Keuskupan Pangkalpinang dipimpin oleh Uskup Mgr. Prof. Dr. Adrianus Sunarko, OFM.

D. Struktur dan Pelayanan

·         Keuskupan Pangkalpinang terbagi menjadi dua kevikepan, yang masing-masing dipimpin oleh seorang vikaris episkopal (vikep). 

·         Fungsi kevikepan adalah untuk mengoordinasikan kegiatan pastoral, liturgi, pendidikan, dan karya sosial di paroki-paroki di wilayahnya. 

·         Selain itu, Keuskupan juga peduli terhadap pelestarian lingkungan hidup dengan mengacu pada ajaran Gereja. 

 

Hari Kedua

Konferensi  oleh Bapak Josie Susilo Handrianto

Point Keenam :

“Framing Pastoral di Era Digital”

Dunia digital adalah lingkungan yang dibentuk oleh teknologi informasi dan komunikasi, meliputi semua yang berkaitan dengan komputer, internet, dan jaringan, di mana informasi dan komunikasi diproses, disimpan, dan ditransmisikan menggunakan perangkat lunak dan keras digital. Era ini memungkinkan aktivitas menjadi lebih praktis dan terhubung, dengan perkembangan seperti kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan aplikasi digital yang mengubah cara kita belajar, bekerja, dan berinteraksi. Namun, ia juga menghadirkan tantangan seperti risiko konten berbahaya dan kebutuhan akan literasi digital untuk penggunaan yang bijak dan aman. 

Poin Ketujuh :

Konvergensi media pastoral adalah penggabungan media tradisional dan digital untuk meningkatkan pelayanan pastoral atau pelayanan rohani. Tujuannya adalah untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan, membangun komunitas, dan memberikan bimbingan rohani secara lebih luas dan efektif di era digital. 

 “Konvergensi Media Sosial Gereja Peluang dan Tantangan

Konvergensi ini memadukan tiga elemen utama, yaitu Komputasi, Komunikasi dan Konten. Komputasi: Pemanfaatan perangkat dan teknologi digital, seperti ponsel pintar dan laptop. Komunikasi: Penggunaan internet dan jaringan digital untuk berinteraksi. Konten: Materi-materi pastoral, seperti khotbah, renungan, dan informasi kegiatan gereja, yang didistribusikan dalam format digital. 

Peran dan Contoh Dalam Pelayanan Pastoral

Konvergensi media mengubah cara pelayanan pastoral, dari yang semula hanya tatap muka menjadi model yang lebih fleksibel dan menjangkau lebih banyak orang. 

·       Penyebaran materi rohani: Gereja dapat mengunggah video khotbah, rekaman audio, atau renungan harian yang dapat diakses jemaat kapan saja.

·       Pembangunan komunitas online: Media sosial digunakan untuk menciptakan forum diskusi, grup doa, atau platform berbagi pengalaman iman bagi jemaat yang terpisah jarak.

·       Konseling pastoral daring: Bimbingan rohani dapat diberikan melalui media digital kepada jemaat yang membutuhkan.

·       Penjangkauan global: Konten dapat disebarkan ke audiens yang lebih luas, termasuk mereka yang tidak dapat datang secara fisik ke gereja karena lokasi, pekerjaan, atau kondisi kesehatan.

·       Strategi komunikasi terpadu: Pesan pastoral disampaikan secara konsisten melalui berbagai platform, seperti situs web, media sosial, dan layanan streaming misa, untuk memperkuat dampaknya. 

Tantangan Konvergensi Media Pastoral

Meskipun memberikan banyak keuntungan, konvergensi media juga menghadirkan sejumlah tantangan bagi pelayanan pastoral: 

·       Penyebaran informasi yang tidak akurat: Risiko penyebaran hoaks atau informasi yang tidak sesuai dengan ajaran agama dapat menyesatkan umat.

·       Kurangnya kedalaman interaksi: Komunikasi digital sering kali tidak memiliki kedalaman yang sama dengan interaksi tatap muka.

·       Kesenjangan akses: Tidak semua jemaat memiliki akses atau kemampuan teknologi yang sama, terutama di daerah yang koneksi internetnya terbatas.

·       Ketergantungan teknologi: Penggunaan media digital yang berlebihan dapat berpotensi mengalihkan perhatian dari kehidupan rohani dan realitas tatap muka.

·       Mempertahankan relevansi: Gereja perlu terus berinovasi agar pesan pastoralnya tetap relevan dan menarik bagi generasi muda yang terbiasa dengan dunia digital. 

Penutup :

Pastoral Digital

Pastoral digital Regio Sumatera merupakan pelayanan penggembalaan spiritual dan dukungan rohani yang dilakukan dengan menggunakan teknologi dan media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, podcast, dan video konferensi, untuk menjangkau umat, khususnya kaum muda, serta membangun komunitas dan menyediakan bimbingan di era digital. Ini merupakan respons gereja terhadap tantangan dan peluang yang muncul dari perkembangan teknologi, memungkinkan penyampaian ajaran, konseling, dan kegiatan keagamaan secara lebih luas, fleksibel, dan kreatif. 

Mengapa Pastoral Digital Penting? Menjangkau Generasi Muda, Remaja dan kaum muda di era digital sulit dijangkau dengan metode pastoral tradisional, sehingga teknologi menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan iman secara relevan. Memperluas jangkauan pelayanan teknologi memungkinkan gereja untuk melayani umat yang terhalang jarak atau waktu, memastikan keberlanjutan ibadah dan dukungan spiritual. Fleksibilitas dan Aksesibilitas, Layanan pastoral digital menawarkan fleksibilitas bagi umat dan konselor untuk berinteraksi kapan saja dan di mana saja. Membangun komunitas, media digital dapat digunakan untuk mengadakan sesi diskusi Alkitab, doa bersama, dan kegiatan gereja lainnya secara daring, memperkuat rasa memiliki dan keterlibatan komunitas. 

Platform dan metode yang digunakan yaitu Facebook, Instagram, TikTok dan Youtube. Media sosial ini digunakan untuk menyebarkan pesan dukungan, inspirasi, ajaran rohani, dan informasi kegiatan gereja. Aplikasi Pesan dan Konferensi Video. Blog dan Podcast, Menyajikan konten audio dan tulisan yang dapat diakses kapan saja untuk dukungan spiritual yang mendalam. Tantangan dalam Pastoral Digital. Pastoral digital menjadi pelengkap strategis untuk memperluas dan memperkaya pelayanan Gereja di dunia yang semakin terhubung dengan teknologi. Gereja perlu mengembangkan strategi pastoral digital yang efektif, bijak, dan etis untuk menjawab kebutuhan zaman.

 

 



Minggu Pra-Paskah I/A-1 Minggu 22 Februari 2026

Gong, Pertarungan Dimulai Melawan Kekuatan Jahat 

Kejadian 2:7-9;3:1-7

Mazmur 51:3.4.5.6.a.12.13. 14.17

Roma 5:12-19

Matius 4,1-11


Dalam bukunya yang berjudul Winning by Letting Go, Elisabeth Brenner berkisah mengenai cara jitu bagi orang-orang pedalaman India untuk menangkap seekor monyet:

 

o   Mereka harus membuatkan sebuah kotak tertutup dan melubanginya pada sebuah sisi kotak itu sebesar tangan monyet.

o   Mereka meletakan kacang goreng/rebus di dalam kotak itu.

 

Apabila seekor monyet berusaha menggenggam kacang yang ada dalam kotak itu, maka sangat mustahil baginya untuk bisa mengeluarkan tangannya apabila posisi tangannya tergenggam. Dalam situasi itu, monyet hanya memiliki dua pilihan:

 

o   Melepaskan kacang yang ada dalam genggamannya dan meninggalkan kotak itu dengan bebas.

o   Ngotot untuk mendapatkan kacang itu dan akhirnya terperangkap.

 

Biasanya, monyet lebih memilih kacang dan mempertahankannya berada dalam genggamannya, walaupun akhirnya terperangkap.

**************************

 

Situasi Yesus di padang gurun tidak jauh berbeda dengan situasi monyet ketika harus menjatuhkan pilihan. Perbedaannya:

 

o   Monyet lebih memilih kepentingannya sesaat daripada kehidupannya yang panjang. Dia jatuh ke dalam perangkap manusia.

o   Yesus tidak jatuh ke dalam perangkap Iblis, karena Dia memiliki visi dan prinsip hidup yang jelas: Dia tidak mempertahankan kepentingan dan keinginan manusiawi-Nya, melainkan kepentingan Allah.

 

Dikisahkan bahwa Yesus “dipimpin” oleh Roh ke padang gurun. Dalam teks asli Yunani dikatakan bahwa Roh “ekballei” Yesus ke padang gurun: Roh mengusir, melemparkan Yesus ke luar. Maksudnya, Yesus yang dipenuhi dengan Roh Kudus sungguh-sungguh dikuasai oleh kekuatan yang dasyat dan kekuatan itu akan menyatakan dirinya dalam seluruh tindakan hidup-Nya. Kekuatan itu akhirnya memimpin-Nya ke padang gurun, yaitu tempat yang paling tepat untuk berdialog dengan Allah; tempat yang paling nyaman untuk bermenung sebelum mengambil sebuah keputusan mengenai langkah-langkah ke depan.

Saat dan kurun waktu yang lama di padang gurun adalah saat dan suatu tahapan yang paling penting dan paling menentukan dalam kehidupan-Nya. Pada saat dan kurun waktu yang lama itu, Dia harus memilih dan harus menentukan pilihan-Nya: menjadi Mesias seperti yang diimpikan oleh kaum-Nya sendiri atau Mesias Ilahi?

 

Apabila Dia harus menjadi mesias duniawi, maka Dia harus tampil sebagai:

 

o   Seorang panglima yang gagah-perkasa supaya bisa mengusir penjajah Roma, bisa menguasai rakyat, bisa menegakkan perdamaian dan kesejahteraan, bahkan dengan tangan besi.

o   Dia bisa menjamin kehidupan rakyat-Nya dengan makanan. Rakyat manakah yang tidak mengharapkan kepada penguasa untuk menjamin makanan baginya?

o   Dia juga bisa menjadikan diri-Nya sebagai manusia yang serba bisa. Dia harus tampil di hadapan umum dengan segudang kehebatan-Nya serta menguasai segalanya.

o   Cita-cita semua penguasa adalah menguasai seluruh dunia, seperti Alexander dari Makedonia, Napoleon, Hittler, dll. Kaum Yahudi yakin bahwa Mesias memiliki kuasa mutlak dan tidak akan pernah bisa dilawan oleh siapa pun.

 

Yesus tidak terperangkap oleh pemikiran kaum sebangsa-Nya. Dia justru memilih jalan yang lain, yaitu jalan yang tidak dianjurkan Iblis. Dia menghormati manusia seutuhnya.

 

o   Dia ingin menjadi Mesias yang tidak memaksa dengan kekuasaan dan dengan tangan besi.

o   Dia ingin bergaul dan dekat dengan siapa saja. Dia berjuang untuk meyakinkan, bukan menguasai.

o   Dia lemah lembut dan miskin ketika menawarkan Kerajaan Allah kepada dunia. Dia bertindak secara murni.

o   Dia tidak akan berpegang pada pedoman si jahat, yaitu tujuan akan menghalalkan semua cara.

o   Dia tidak akan membebaskan bangsa-Nya dari pernjajahan Romawi, sebab penjajahan dosa jauh lebih mematikan daripada penjajahan asing.

o   Dia melayani sampah-sampah masyarakat, berpihak pada yang dianiaya, dikucilkan dan yang dicap tidak bermartabat.

 

Yesus terbuka terhadap gerakan Roh yang Baik, yaitu Roh Bapa-Nya sendiri. Roh Bapa tidak memaksa-Nya, tetapi menuntun-Nya. Roh Kudus yang sama pasti tidak akan pernah memaksa pikiran dan hati kita untuk menerima pimpinan-Nya. Namun, setiap hati yang terbuka dan menerima pergerakan Roh Bapa adalah hati yang terbuka dan bersedia dipimpin oleh Allah sendiri sehingga bisa masuk dan mengalami setiap peristiwa yang tidak pernah dialami. Jalan Tuhan, bukanlah jalan kita. Apakah kita pernah mengalami sesuatu yang menyenangkan atau membuat pikiran dan hati berantakkan? Sikap hati yang manakah sehingga mampu menerima campur tangan Allah dalam setiap peristiwa hidup kita?

 

o   Sebelum tampil di hadapan umum, Yesus menyepi di padang gurun. Dia sadar setiap langkah menentukan jalan hidup-Nya ke depan sehingga harus dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang, terutama arah dan tujuan langkah yang dituju. “Apakah kita pernah duduk tenang, walau sesaat untuk merenungkan isi hidup, isi panggilan dalam keluarga dan komunitas?

o   Yesus menyepi dalam kurun waktu yang lama. Yesus tidak melamun atau tidur-tiduran untuk bermalas-masalan. Dia menyiapkan diri-Nya untuk menyambut tugas mulia yang diberikan Bapa kepada-Nya. Pada momen itu, Dia diuji, terutama kesetiaannya kepada Allah, Bapa-Nya oleh iblis, sosok yang mengerikan, bertanduk dan berekor kelicikan. Iblis itu ada dalam hati saya, terutama ketika hati kita tertutup kepada Allah dan sesama dan berani berkata, “Saya tidak butuh Allah dan sesama”. Iblis yang berakar di hati adalah ibilis licik yang cenderung menggeser peranan Allah dari kedudukan-Nya dan mengusir sesame dari kehidupan kita. Apakah yang kita lakukan untuk mematikan iblis ini di hati kita?

 

o   Apabila kita mampu mematahkan kecenderungan hati yang jahat, kita mampu mengusir dan mengalahkan iblis licik di hati kita. Hati kita akan tenang, walaupun banyak alasan dalam hidup ini untuk gelisah dan perjuangan hidup di dunia ini sangat berat. Dunia ini bukan firdaus yang nyaman, namun kita lupa bahwa kehancuran firdaus kehidupan kita terjadi ketika kita menutup hati kepada suara Allah, bisikan kasih sesama, sapaan yang menguatkan, senyuman yang penuh kehangatan dan kata-kata yang memotivasi daya hidup dan senyuman lembut yang menguatkan langkah yang lemah.

 

Ingatlah….

Sumber iblis/kejahatan itu bukan berada di luar, tetapi di dalam diri kita sendiri, yaitu di dalam aku yang tertutup, aku yang egois, aku yang kejam, aku yang sirik, aku yang dendam, aku yang tidak pernah puas, aku yang tidak pernah memahami dan menerima yang lain.

 

Karena itu…

Isilah hati kita  dengan cinta. Cinta akan mengubah yang pahit menjadi manis, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, kemarahan menjadi rahmat, dan musuh menjadi sahabat. Cinta akan mengikis hati yang egois, hati yang tidak pernah puas, hati yang tidak pernah memahami dan hati yang tidak pernah menerima Allah dan sesama dalam kehidupan pribadi.... Cinta menuntun kita kepada kebaikan dan kebenaran; mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah...

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 

Minggu, Pekan Biasa VI Tahun A

“Segeralah Berdamai”

Sirakh 15:15-20

Mazmur 119:1.2.4.5.17.18.33.34

1 Korintus 2:6-10

Matius 5:13-37

“Tinggallah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan”

(Matius 5:24-25)

Seorang Ibu mempunyai seorang bayi perempuan yang tidak bisa merasakan sakit karena adanya gangguan pada sistem syarafnya. Pada suatu hari, Si Ibu mendengar anaknya yang berada di kamar yang lain itu tertawa. Di saat Si Ibu melihatnya, dia menemukan anak perempuannya itu sedang menggigit ujung jarinya yang tampaknya mengeluarkan darah segar. Anak perempuan itu tampak sangat senang membuat gambar dengan darahnya yang mengucur dari ujung jarinya.

Hilangnya rasa sakit dalam tubuh kita sangat mirip dengan hilangnya kepekaan kita akan dosa-dosa kita. saya sangat yakin bahwa kepekaan kita akan dosa-dosa kita bertautan erat dengan kepekaan akan Allah dan kedalaman cinta-Nya kepada kita. Apabila kita dekat dengan Allah, kita akan peka terhadap dosa-dosa kita dan semakin mengagumi cinta-Nya. sebaliknya, apabila kita jauh dari Allah, kesadaran kita akan dosa dan cinta Allah semakin kecil dan menghilang yang menjadi syarat penting bagi kita untuk menyadari dan mengakui kondisi manusiawi kita yang sesungguhnya.

Saya pun menyimpulkan:

o   Hilangnya kepekaan akan dosa menjadikan kita sebagai pribadi yang benar, tanpa cacat, tanpa kelemahan...

o   Hilangnya kepekaan akan dosa merupakan sesuatu yang sangat tragis dalam kehidupan kita, seperti hilangnya rasa sakit dalam diri Si Anak Perempuan yang mengalami gangguan dalam sistem syarafnya.

o   Hilangnya kepekaan akan dosa menyebabkan hilangnya kepekaan akan Allah serta daya cinta-Nya yang merangkul dan mengampuni.

o   Hilangnya kepekaan akan dosa menyebabkan hilangnya harapan akan pengampunan, hilangnya hasrat untuk mengampuni dan gelapnya niat untuk berdamai dengan Allah dan sesama.

******************************

Sabda Yesus ini sungguh-sungguh revolusioner. Dalam kata-kata-Nya ini terungkap sikap-Nya yang sangat tegas-jelas: “Jangan mengikuti upacara keagamaan apa pun selama kita belum atau tidak berdamai dengan siapa pun (saudara) yang menjadi lawan atau musuh kita.”

Sebelum kita bersujud di hadapan Bapa Surgawi, kita tidak hanya dituntut untuk mengampuni dosa dan kesalahan saudara kita karena saudara kita sudah melakukan sesuatu yang tidak baik kepada kita, tetapi kita harus berdamai dengan saudara kita karena dia (saudara kita itu) juga pasti merasa disakiti, bahkan dirugikan oleh perbuatan kita kepadanya.

Kita tidak akan pernah bersukacita sebagai anak Allah selama tali persaudaraan kita terputus dengan sesama kita. Kita tidak pernah boleh berkata, “Saya tidak melakukan kesalahan apa pun kepadanya. Ini bukan urusan saya. Ini urusan dia.” Kita harus sadar bahwa hidup dalam permusuhan berarti hidup dalam kesalahan dan dosa serta dikuasai oleh dosa. Hati kita tidak akan pernah merasa tenang dan damai apabila kita hidup dalam situasi batin demikian.

Sabda Revolusioner Yesus yang menuntut kita untuk berdamai dengan siapa pun (saudara) yang menjadi lawan atau musuh kita sebelum kita bersujud di hadapan Bapa Surgawi untuk menyerahkan korban persembahkan kita di atas Mezba-Nya yang Mahakudus sesungguhnya memperlihatkan kerekatan hubungan antara pengampunan dari Allah dengan pengampunan terhadap sesama. Sabda Revolusioner ini sudah ditegaskan Yesus dalam ajaran-Nya tentang Doa-Nya kepada para Murid-Nya: “Ampunilah kami akan dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami,....(Lukas 11,4).

Dalam doa ini ditegaskan bahwa sesudah kita mengampuni sesama atas kesalahan dan dosannya kepada kita, kita layak menghadap Allah untuk memohonkan pengampunan dari-Nya. Ini berarti bahwa hanya ketika kita mampu dan sudah mengampuni sesama yang bersalah kepada kita, maka kita dipandang layak untuk memohonkan pengampunan dari Allah. Dengan demikian tampak bahwa pengampunan kepada sesama menjadi syarat untuk memperoleh pengampunan dari Allah serta menjadi syarat kelayakan untuk mempersembahkan diri kita kepada-Nya.

Walaupun demikian, dalam kenyataannya tidaklah terjadi demikian sebab pengampunan Allah tidak diperoleh dengan cara paksaan. Pengampunan merupakan tindakan bebas Allah dan diterima sebagai anugerah. Kita diperkenankan untuk memohonkan pengampunan dari Allah, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu, carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Lukas 11,9). Karena itu, kita harus setia menunggu, sembari membuka pintu hati kita untuk menerima apa yang dikerjakan Allah dalam diri dan kehidupan kita. Kita hanya bisa berharap kepada cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya apabila kita sudah mengampuni sesama. Namun, hal itu sama sekali tidak akan mengurangi kebebasan Allah. Sesungguhnya, yang terjadi adalah: Allah sudah mengampuni dosa-dosa kita sehingga Dia menuntut agar kita masing-masing rela mengampuni sesama. Kenyataan ini dikisahkan Yesus dalam perumpamaan-Nya tentang “Hamba yang tidak tahu berbelaskasih” (Matius 18,21-35).

Hamba yang berhutang kepada tuannya dan mendapatkan belaskasihannya karena tidak mampu membayar hutang-hutangnya seharusnya menaruh cinta dan belaskasihan kepada sesamanya yang berhutang kepadanya. Namun, karena dia tidak berbelas kasih kepada sesamanya, maka tuannya pun murka terhadapnya.

Dengan Sabda Revolusioner ini, kita diingatkan dan dituntut bahwa selama kita tidak mempedulikan sesama dalam arti spiritual/iman, tidak memberikan pengampunan, sesungguhnya, kita sudah membunuh dan membinasakan sesama sebagai saudara kita. Dengan bertindak demikian, sesungguhnya, kita tidak lagi menjadi anak Allah.

Persoalannya,...

o   Kita tidak akan pernah mampu mengampuni sesama apabila kepekaan kita akan semua kesalahan dan dosa dalam diri kita sendiri sudah menghilang, seperti menghilangnya rasa sakit dalam diri Si Anak yang mengalami gangguan dalam sistem syarafnya.

o   Kita hanya bisa mengampuni dan berdamai dengan sesama dan Allah, apabila kita menyadari kelemahan dan kerapuhan dalam diri kita: kita pernah, bahkan sering jatuh ke dalam kesalahan dan dosa secara menyedihkan dan merasa diri tidak berdaya serta tidak berharga di mata Allah dan sesama... Pada momen inilah, kita akan mengagumi kekuatan dan keagungan cinta Allah yang merangkul dan mengampuni.

o   Iman akan daya cinta Allah yang merangkul dan mengampuni akan menggerakan kita untuk mengampuni dan berdamai dengan sesama yang bersalah kepada kita,  kapan dan di mana saja, terutama sebelum kita menghadap Allah untuk memohon pengampunan-Nya serta mempersembahkan diri kita kepada-Nya.

Bagaimana dengan kita?

o   Apakah kita sadar bahwa hanya ketika kita sudah mengampuni dan berdamai dengan sesama kita, maka kita pun akan diampuni Allah dan persembahan hidup kita dalam doa berkenan di hadapan-Nya?

o    Apakah kita sadar bahwa syarat pengampunan dari Allah adalah kerelaan kita kita mengampuni dan berdamai dengan sesama?

 

Selamat Bermenung...

Salah Kasih....

Buona Domenica....

Dio Ti Benedica......

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget