Keuskupan Sibolga

Latest Post





    Kerendahan hati iman adalah sikap batin yang mengakui ketergantungan total pada Tuhan, menyadari keterbatasan diri, dan tunduk pada kehendak-Nya, bukan sekadar tidak sombong atau sederhana. Sikap ini melibatkan penyerahan diri, tidak mengandalkan kekuatan sendiri, dan sungguh memprioritaskan Tuhan di atas ambisi pribadi, seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri dan melayani. Sikap ini adalah fondasi atau dasar iman yang kuat, memungkinkan kita menerima kasih karunia dan perlindungan ilahi. 

Ciri-ciri Kerendahan Hati Iman Kristiani:

  • Menyadari Keterbatasan: Mengakui bahwa segala kemampuan berasal dari Tuhan dan manusia itu terbatas.
  • Tunduk pada Kehendak Tuhan: Menerima kedaulatan-Nya dan taat pada perintah-Nya, seperti dalam doa dan hidup sehari-hari.
  • Tidak Sombong : Menghindari keangkuhan dan sikap merasa lebih dari orang lain, bahkan dalam keberhasilan.
  • Bergantung Penuh: Menggantungkan diri sepenuhnya pada kekuatan Tuhan, bukan kekuatan sendiri, terutama saat menghadapi kesulitan.
  • Melayani Sesama: Mengambil teladan Kristus dengan merendahkan diri untuk melayani, bukan meninggikan diri. 

Hubungan dengan Iman:

  1. Fondasi Iman: Kerendahan hati memungkinkan iman yang jujur dan penyerahan diri yang penuh kepada Tuhan.
  2. Menerima Kasih Karunia: Orang yang rendah hati lebih mudah menerima kasih karunia dan bimbingan ilahi. Perumpamaan pemungut cukai yang berdoa dengan rendah hati (Lukas 18:9-14) menunjukkan bahwa ia pulang dalam keadaan dibenarkan, bukan orang Farisi yang sombong. 

    Sikap ini menghasilkan kesalehan, rasa aman, dan kepuasan. Mendatangkan kehormatan dari Tuhan, karena Tuhan menentang yang sombong tetapi mengasihani yang rendah hati.

 



Hari Raya Penampakan Tuhan

“Di Betlehem”

Matius 2:1-12

Minggu, 4 Januari 2026

“Dan engkau Betlehem... Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil;... dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku”

(Matius 2:5-6)

******************************

 

Pada suatu malam yang terang, seorang putri kecil bermain petak umpet bersama anak-anak sekampunya. Karena alasan yang sungguh-sungguh tidak diketahui, anak-anak sekampung berhenti bermain, sementara putri kecil ini masih bersembunyi. Putri kecil ini mulai menangis.

Kakeknya yang sudah tua keluar dari rumah mereka untuk mencari tahu, apa yang membuat cucunya menangis. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Sang Kakek berkata kepada cucunya:

“Cucuku, janganlah menangis karena anak-anak itu tidak datang mencari dan menemukanmu. Sebaiknya, kamu belajar dari kekecewaanmu malam ini: kehidupan ini diibaratkan dengan sebuah permainan antara Allah dan manusia. Kita, manusia selalu tidak jujur dalam permainan sehingga Allah selalu menangis. Kita tidak sadar bahwa Allah sudah datang untuk mencari kita. Setiap saat, Allah menunggu kita untuk menemukan-Nya, namun kita justru mencari-Nya di tempat yang lain sesuai dengan pikiran kita.”

 

Mengapa Betlehem?

Setelah dikejutkan oleh para Majus yang mencari Sang Raja Baru, Herodes memanggil semua Imam kepala dan ahli Taurat. Berdasarkan nubuat Kitab Suci, mereka pun mengetahui bahwa tempat kelahiran Sang Raja Baru adalah Betlehem. Akan tetapi, mereka sendiri tidak sudi bergerak menuju Betlehem untuk mencari dan menemukan-Nya. Mengapa?

Seperti Raja Herodes, para Imam dan ahli Taurat, mayoritas manusia di bumi ini mengetahui kebenaran, namun justru menjauhinya. Hati mereka tidak tergerak untuk mencari dan menemukan-Nya sebab mereka tidak menerima kalau “Sang Mesias lahir di tempat yang terpencil/kecil/udik.” Padahal inilah sifat Allah dan pilihan-Nya. Israel dipilih Allah sebab bangsa ini kecil di masa itu. Daud pun dipilih dan diurapi menjadi raja karena dialah yang terkecil dari semua saudaranya.

Betlehem adalah sebuah dusun kecil, sederhana dan tidak dikenal. Dusun ini terletak lebih kurang delapan kilometer, bagian Selatan Yerusalem. Betlehem tidak memiliki arti apa pun dan tidak sebanding dengan Yerusalem: ciri yang paling unik dari dusun kecil ini adalah kesunyian. Situasi ini sangat kontras dengan Yerusalem yang menjadi pusat Kerajaan Israel, pusat kegiatan politik, kebudayaan dan keagamaan. Yerusalem diwarnai dengan kesibukan, kebisingan dan persaingan.

Uniknya, kesunyian Betlehem justru digemahkan dan dimadahkan dalam Syair Natal. Betlehem digelari kota yang sunyi senyap, tenang dan tenteram. Bagi Mikha (Mikha 5, 1), Betlehem adalah “yang terkecil di tanah Yehuda”.

Penginjil Lukas menempatkan Betlehem dalam posisi yang kontras dengan Roma: Roma memperlihatkan kemegahan, keperkasaan, kemasyuran serta kekasaran. Semua kekuasaan dan kekuatan berada di tangan Kaisar, diatur dan dikendalikan seturut kemauannya. Betlehem menyingkapkan kelembutan, keluwesan, keserhanaan dan karya yang agung. Dari kesunyian, kelembutan, kelusan dan kesehanaan datang Sang Juru Selamat.

Walaupun Betlehem hanyalah sebuah dusun kecil, namun dari kekecilannya lahir sejumlah sosok terkenal dalam sejarah penyelamatan, terutama Boas yang memperisterikan Rut (Rut 2, 4), Isai, ayah Daud (Rut 4, 22; I Samuel 16, 1), anak-anak Zeruya: Yoab, Abisai dan Asael (II Samuel 2, 18-32), Daud (I Samuel 17, 12). Daud diurapi menjadi Raja di dusun kecil ini. Karena Daud, dusun kecil Betlehem ini disebut Kota Daud (I Samuel 20, 6; Lukas 2, 4-11).

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa satu tunas akan keluar dari tunggul Isai, yaitu dari Wangsa Daud (Yesaya 11, 1-10). Dalam nubuatnya, Mikha menyebutkan bahwa Betlehem akan menjadi tempat kelahiran Sang Mesias, pemimpin bangsa Israel (Mikha 5, 1), “Dan engkau hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit seorang yang akan memerintah Israel”.

Ketika Natal tiba, kita pasti membayangkan dan memikirkan Betlehem. Alam pikiran dan bayangan kita tertuju pada malam yang dingin, bintang yang bertaburan, penginapan yang penuh, penolakkan, padang, palungan, lembu-lembu dan para gembala yang berjaga.

Matheus berkisah bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, di tanah Yudea seturut nubuat Nabi Mikha. Lukas bercerita mengenai kedatangan Malaikat Tuhan. Dia datang memberitakan kabar suka cita, yaitu kelahiran Sang Juru Selamat kepada para gembala. Serombongan bala tentara Surgawi bernyanyi memuliakan Allah: kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Setelah para Malaikat meninggalkan mereka, para gembala berkata satu kepada yang lain: “Mari kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang dikatakan Malaikat Tuhan kepada kita”.

Ajakan para gembala ini serentak menjadi ajakan bagi kita dan semua orang yang berkenan kepada Allah: kita diajak untuk pergi ke Betlehem. Namun,...

 

o   Betlehem bukanlah tempat, melainkan suasana yang mendukung dan memotivasi kita untuk berkembang dalam iman dan semua aspeknya berkat perjumpaan dengan Sang Mesias;

o   Betlehem bukanlah pilihan, melainkan program hidup bagi kita dan semua orang pilihan Allah.

 

Apa yang Diharapkan dari Betlehem?

Pada Hari Raya Penampakkan Tuhan ini, kita diajak untuk pergi ke Betlehem, tempat Sang Juru Selamat dibaringkan. Apa artinya Betlehem bagi kita, orang-orang yang berkenan kepada Allah?

Pertama, di Betlehem kita akan menjumpai Sang Bayi Al masih yang berbaring lemah di palungan. Bayi itu adalah Iesu (Yesus: Allah yang menyelamatkan), Sang Juru Selamat, Kristus, Tuhan.

Dalam diri-Nya, janji Allah bagi manusia terpenuhi, “Hari ini telah lahir bagi Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud. Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan”.

Allah hadir dalam rupa Seorang Bayi, seorang Anak Kecil yang Lemah. Kita pasti bertanya, “Mengapa Allah tidak hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia? Apabila Tuhan hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia, Allah pasti mendapatkan tempat penginapan yang layak di kota Betlehem.

Jalan pikiran Allah berbeda dengan jalan pikiran manusia. Dengan memilih rupa Bayi yang Lemah, Allah ingin mengubah pandangan manusia yang terlalu mengagungkan dan mendewakan hal-hal duniawi serta mengabaikan hal-hal yang kecil, walaupun sangat berarti untuk kehidupan. Manusia sibuk memperjuangkan nama baik, pengaruh, kekayaan dan kekuasaan. Allah adalah urusan kecil yang sama sekali tidak menambah apa pun untuk kehidupan sehingga sering dilupakan. Manusia baru mengingat dan memberikan tempat kepada-Nya setelah menuntaskan urusan duniawi.

Kehadiran Allah dalam rupa Bayi yang Lemah ingin mengubah pandangan hidup manusia yang selalu meremehkan hal-hal yang kecil, walaupun sangat penting. Allah itu sangat penting, walaupun hadir dalam wujud “Orang Kecil”.

Allah mencintai segala sesuatu yang dipandang hina di mata manusia. Dia mencintai Bayi yang Lemah dan Tidak Berdaya; Dia mencintai orang-orang polos hatinya, palungan ternak dan para penjaga ternak. Dia tidak jijik dengan bauh busuk yang menyengat, dengan kebodohan dan kekotoran lahiriah, dengan orang-orang yang remehkan. Dia menghindari istana, kaum bangsawan dan orang-orang yang membuat dirinya agung. Dia mendatangi dan menjumpai orang-orag yang disisihkan dan dibuang dari pusat kehidupan karena dipandang tidak bermartabat.

 

Kedua, di Betlehem, kita diajak untuk mempercayakan segala sesuatu yang tidak berarti, yang kecil, yang kurang dipeduli, yang berada di luar perhitungan manusiawi kepada Allah, yang akan menuntun kita kepada suatu akhir yang dasyat, ke masa depan yang cerah. “Betlehem, Efrata” dapat dijumpai di mana-mana, terutama:

 

o   Di saat penindasan berubah menjadi pengamanan; di saat rasa cemas berubah menjadi rasa gembira;

o   Di saat rasa tertekan berubah menjadi rasa yang penuh kebebasan;

o   Di saat rasa resah berubah menjadi rasa aman; di saat suasana cekcok berubah menjadi tenteram;

o   Di saat orang yang tidak memiliki tumpangan, diberikan tumpangan;

o   Di saat orang yang dirugikan, dipulihkan nasibnya;

o   Di saat air mata berubah menjadi gelak tawa.

 

Di mana ada Betlehem, di sana ada Natal dan ada Sang Mesias yang Hina. Sebab itu, Betlehem bukan lagi menjadi sebuah kota semata, melainkan suatu program hidup.

Karena itu, Saya berkata kepada Anda, “Tuhan boleh lahir seribu kali di Betlehem, tetapi jika Tuhan tidak pernah lahir dalam hidup kita, maka sia-sialah pesta Natal.”

 

Kita hanya bisa menjumpai Allah apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita ke tempat Dia berada, yaitu di antara yang Terkecil dan di antara Orang-orang Kecil. Akal budi kita mencari Allah, Sang Juru Selamat, namun hanya Sabda Allah dan Terang-Nya yang bisa menyatakan dan menuntun kita untuk menemukan-Nya. Akal budi berkata, “Sang Juru Selamat sudah Hadir dan Tinggal di antara kita,  manusia,” namun hanya Wahyu Allah dan Terang-Nya yang bisa menjelaskan identitas-Nya kepada kita.

 

Karena alasan inilah, maka:

 

o   Bintang Ajaib yang dilihat, menerangi dan menuntun para Majus padam/tidak menyinarkan Terang-Nya di Yerusalem, terutama di hati Raja Herodes.

o   Bintang Ajaib yang sesungguhnya bukanlah meteor yang bertaburan di langit, melainkan Terang Sang Mesias yang Baru Lahir: Dia sendirilah yang menuntun pikiran dan hati kita untuk menemukan-Nya. Akal budi tidak berdaya di saat menghadapi Sang Terang Sabda Allah, sebagaimana bintang lenyap di saat matahari bersinar terang.

o   Apakah kita bersedia diterangi oleh Sang Bintang, yaitu Mesias dalam Rupa Bayi yang Hina untuk menemukan-Nya di tempat Dia berada? Palungan, tempat Dia berbaring adalah Hati Kita....

 

Ingatlah:

o   Hati kita adalah Palungan-Nya... Hati kita adalah Takhtah-Nya... Janganlah mencari Dia di tempat yang lain....

o   Karena itu... temukan Dia di kedalaman Hati Kita dengan sikap imam yang jujur, polos, tanpa kepalsuan, tanpa pencitraan.... apabila kita mencari Dia dengan kepalsuan dan pencitraan.... kita tidak akan pernah menemukan-Nya...

 

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buon Natale e Buon Anno...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 



BERLANGKAH DALAN DAN DENGAN PENUH IMAN-HARAPAN,,

Tahun 2026

************************

St. Agustinus berkata: “Setiap saat, ketika kita memasuki Tahun yang Baru, kita sesungguhnya beranjak semakin dekat menyongsong akhirat dan hidup kita di bumi fana ini akan berakhir”. Namun, saya berani berkata kepadamu, saudara....

“Jangan pernah takut bahwa hidupmu akan berakhir dengan bertambahnya waktu (tahun). Kamu harus takut kalau hidupmu tidak pernah dimulai”.

Perkataan ini patut kita renungkan menjelang akhir tahun ini. Mengapa kita tidak boleh takut bahwa hidup ini akan berakhir? Karena....

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh kedalaman dan intensitasnya.

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa lama dan di mana kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalani dan mengisi hidup.

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh kuantitas/rentetan waktu hidup, melainkan oleh kualitas hidup.

Saat ini, kita berada di batas antara tahun yang silam dan tahun yang akan datang. Di tengah malam tadi, tahun 2025 sudah menjadi masa silam dan tidak akan pernah kembali. Di tengah malam ini juga, kita memasuki Tahun Baru, tahun 2026 yang belum terisi... belum dijalani. Namun, di detik awal tengah malam inilah, satu lembaran baru dalam buku kehidupan kita dibuka.

Sebagai seorang beriman, marilah kita membuka dan memasuki Tahun Baru 2026 ini dengan meletakan harapan kepada Allah. Meletakkan harapan berarti mempercayakan celah-celah kehidupan yang gelap dan penuh rahasia ke dalam tangan Allah. Apa yang seharusnya diharapkan?

Sepotong doa ini harus menjadi dasar harapan kita:

Yang saya harapkan:

o   Bukanlah supaya hidup saya bebas dari duka derita,

o   Bukanlah supaya jalan hidup saya ditaburi bunga mawar,

o   Bukanlah supaya tiada air mata yang membasahi pipi saya dan tiada penyakit yang menyiksa saya.

Saya tidak mengharapkan semuanya ini dalam kehidupan saya.

Yang saya harapkan adalah:

o   Supaya saya senantiasa mengenangkan hari-hari bahagia dalam kehidupan saya dengan penuh rasa syukur, 

o   Supaya saya tabah menghadapi semua cobaan dan tantangan, terutama di saat beban hidup saya terasa berat dan disaat sinar harapan meredup dalam diri saya.

Yang  saya harapkan adalah:

Semoga dalam susah dan senang, untung dan malang, senyum cinta, kerahiman dan belas kasih Allah senantiasa menerangi, menuntun dan meyakinkan saya dalam setiap derap langkah kehidupan saya bahwa Allah selalu menghendaki yang terbaik untuk saya.

Saat ini, saya sungguh-sungguh memasuki Gerbang Tahun Baru. Saya pun berkata kepada Malaikat yang berjaga:

Berikanlah kepada saya seberkas cahaya supaya saya bisa berjalan dengan langkah pasti untuk memasuki ketidakpastian hidup di tahun yang baru ini...

Malaikat Menjawab:

Masuklah ke dalam kegelapan dan letakanlah tanganmu ke dalam genggaman tangan Tuhan... Itu jauh lebih baik daripada seberkas cahaya dan jauh lebih pasti daripada jalan yang sudah dikenal...

Dalam kepasrahan, saya berucap:

Saya tidak tahu ke mana Tuhan menuntun saya. Namun, saya percaya bahwa Tuhan pasti dan selalu membuka pikiran dan hati saya saya untuk mengerti bahwa proses kehidupan yang dilalui semua manusia selalu berada pada rel yang sama:

o   Setiap keuntungan membawa serta kerugian,

o   Setiap kelebihan membawa serta kekurangan,

o   Setiap kegembiraan terkandung kesedihan,

o   Dan setiap harapan yang terpenuhi selalu ditantang oleh harapan yang sirnah.

Karena itu, saya harus menerima dengan penuh syukur atas naik turunnya kehidupan ini. Setiap suka dan duka serta untung dan malang dalam hidup ini akan memperkaya saya dengan caranya yang unik:

Saya membutuhkan malam supaya bisa tidur dan menimbah kekuatan baru,... Saya membutuhkan siang hari untuk bekerja, berkreasi dan menciptakan prestasi...

Ini berarti bahwa semua peristiwa hidup yang dialami memiliki makna yang unik dalam seluruh tatatan hidup agar saya menjadi lebih sehat, lebih matang, lebih dewasa dan lebih bahagia.

Oleh karena itu, saya harus bersyukur atas bayangan gelap kehidupan, sebab memiliki makna untuk saya...

o   Saya membutuhkan rasa cemas agar mampu menemukan perspektif baru..

o   Kemacetan dan kegagalan mengajarkan saya untuk bersikap rendah hati dan ikhlas...

o   Penyakit dan sakit menyadarkan saya mengenai pentingnya kesehatan... bahkan sangat mahal harganya...

o   Kelemahan dan ketidakberdayaan mengajarkan saya bahwa saya insan lemah yang selalu membutuhkan bantuan dan topangan Allah dan sesama...

o   Rasa sedih membantu saya untuk mengerti kesedihan dan kedukaan sesama...

o   Saya harus bisa menangis supaya bisa mengerti batin sesama yang tersayat kepedihan...

Dengan penuh rasa syukur, saya pun berdoa kepada-Nya... Tuhan, saya memohon kepada-Mu di awal Tahun Baru ini:

Tinggallah dekat kami supaya kami bisa menjajaki bahwa nama-Mu terpahat dalam sejarah hidup kami, sepanjang hayat kami dan sepanjang masa. Dengarkan suara hati kami, pandanglah duka-derita kami, pikullah juga beban kehidupan kami; berjalanlah mendahului kami untuk menuntun kami supaya kami sungguh-sungguh masuk ke dalam kebebasan dan ke dalam persekutuan dengan semua orang karena kami semua adalah anak-anak-Mu, anak-anak dari Bapa yang satu dan sama...

Selamat memasuki Tahun Baru 2026 dengan semangat kasih dan syukur untuk memulai secara baru. Peganglah prinsip ini: Jangan Pernah Berhenti untuk Memulai dan Jangan Pernah Memulai untuk Berhenti....

 

Buon Anno... 2026

Selamat Tahun Baru 2026.....

Dio Ti Benedica

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

Pesta Keluarga Kudus

28 Desember 2025


Sirakh 3:2-6

Mazmur 128:1.2.3.4.5

Kolose 3:12-21

Matius 2,13-15; 19-23

 

Tidak Sepatah Kata pun

Ketika masih kecil, Roland Hayes, seorang penyanyi tenor berkulit hitam yang termasyur mendengarkan sebuah kotbah tentang Yesus Kristus ketika Dia berdiri di hadapkan Pilatus. Pengkobahnya adalah seorang pria tua berkulit hitam yang buta huruf. Di dalam kotbahnya, pria tua itu menjelaskan perihal dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu “sikap marah yang menyalak dan sikap diam membisu”.

Pilatus jengkel terhadap Yesus yang terus membisu. Dia berteriak, “Mengapa Engkau tidak menjawab aku? Apakah Engkau tidak mengetahui bahwa aku mempunyai kuasa? Walaupun Pilatus dan orang banyak marah kepada-Nya, Yesus Kristus tidak mengeluarkan sepatah kata pun”.

Ketika mencapai puncak kejayaannya, Roland bersama istrinya berdiri di hadapan para penonton di ruangan pertunjukan Beethoven, di kota Berlin. Penontonnya adalah kaum Nazi. Sikap yang mereka tunjukan sangat tidak bersahabat, memancing amarah, permusuhan, bahkan pertentangan dan korban.

1)    Mereka mencemoohkan seorang penyanyi negro yang didampingi istrinya.

2)    Mereka mengejeknya karena berani bernyanyi di tengah-tengah manusia yang berbudaya Aryan.

Suara ejekan, hinaan dan makian menghujani dirinya dan istrinya. Bahkan tindakan yang terarah pada brutalitas yang mematikan semakin diperlihatkan. Selama sepuluh menit, Roland dan istrinya berdiri terpaku di samping piano yang kelak dimainkan. Mereka hening, ... mereka diam ... mereka tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Di dalam hati mereka, terutama Roland ada rasa ingin marah, ingin menangis, ingin meluapkan perasaannya ibarat datangnya air pasang yang tidak terbendung. Namun pada saat itu, dia ingat akan kotbah yang pernah didengarkan ketika masih kecil: Yesus Kristus tidak mengeluarkan sepatah kata pun”.

Dia dan istrinya berdiri dengan sikap tegar, karena dia tahu bahwa kuat-kuasa yang tertinggi berada di sisinya. Dia berdiri sambil berhening dan berdoa dalam diam. Sikapnya yang penuh ketenangan dan keberanian akhirnya menenangkan dirinya dari semua penonton yang hadir. Para penonton terdiam; pada saat itu, Roland memainkan piano dengan penuh kelembutan dan dengan suara emasnya yang penuh pesona, dia mulai bernyanyi. Para penonton, kaum nazi yang awalnya menyambutnya dengan penuh dendam hanyut dalam kelembutan irama piano dan merdu suaranya. Mereka menyambutnya dengan tempik sorak. Roland menang ... Roland mengalahkan mereka karena dia menghadapi kebringasan mereka dengan sikap diam, hening, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun...

 

Starr Daily, seorang tokoh yang sangat berpengalaman dalam hal penyembuhan batin berkata, “Berdasarkan pengalaman saya menangani sekian banyak pasien, hanya orang-orang yang berani mengalami keheningan yang bisa sembuh dari sakit mereka”.

Keheningan lebih menyembuhkan daripada obat-obatan. Blase Pascal, seorang ilmuwan besar berkata, “Setelah mengalami kehidupan manusia dengan cukup lama, saya berkesimpulan bahwa salah satu kesulitan manusia yang paling besar adalah ketidakmampuannya untuk hening”.

****************

Keluarga Kudus adalah sebuah keluarga yang dibentuk oleh Allah sendiri: Allah memilih Maria dan Yosef untuk memelihara, membesarkan dan membimbing Yesus. Namun kekudusan keluarga Nazaret tidak terbentuk dengan sendirinya, atau diperoleh begitu saja. Injil tidak banyak berkisah tentang sepak terjang keluarga ini, namun dari informasi penginjil, kita menemukan sebuah kenyataan bahwa kekudusan keluarga Nazaret justru dibangun dì atas kesunyian dan keheningan yang syarat dengan aneka bentuk pergumulan, tantangan dan cobaan.

 

Injil berkisah bahwa:

 

o   Dalam kesunyian dan keheningan malam, Malaikat Gabriel menyampaikan kehendak Allah, memilih Maria menjadi Ibu Tuhan.

o   Dalam kesunyian dan keheningan mimpi malam, Allah meneguhkan hati Yosef agar tidak meninggalkan Maria secara diam-diam.

o   Dalam kesunyian dan keheningan malam, Yesus lahir di kandang Betlehem.

o   Dalam kesunyian dan keheningan mimpi malam, Allah memerintahkan Yosef untuk menyelamatkan kanak-kanak Yesus bersama ibu-Nya dari ancaman pembunuhan Herodes ke Mesir.

o   Dalam kesunyian dan keheningan mimpi malam, Allah memerintahkan Yosef untuk membawa kanak-kanak Yesus dan Maria kembali ke Nazaret.

o   Dalam kesunyian dan keheningan tempat pengungsian, Yesus dibesarkan di tempat pengungsian di Mesir dan di Nazaret, kampung-halaman-Nya. 

o   Dalam kesunyian dan keheningan senja, Yesus wafat di puncak Golgota.

o   Dalam kesunyian dan keheningan perut bumi, Yesus menyelesaikan misi keselamatan-Nya dan bangkit dengan mulia.

Walaupun demikian, yang utama bukanlah kesunyian dan keheningan itu sebab kesunyian dan keheningan hanyalah sebuah sarana. Yang utama adalah pergumulan, pergolakan, perjuangan, keteguhan dan kesetiaan di balik kesunyian dan keheningan itu. Dalam kesunyian dan keheningan kampung Nazaret, Maria dan Yosef mendengarkan dan merenungkan, menghayati dan melaksanakan kehendak Allah. Perkara-perkara Allah yang sulit dipahami, yang melahirkan keraguan dan kebekuan diolah dan dicairkan menjadi sebuah kepastian melalui proses pembatinan dalam kesunyian.

Kesunyian dan keheningan Nazaret menjadi kudus karena dikuduskan oleh kontak dan komunikasi antara Maria, Yosef dan Yesus dengan Allah sendiri. Dalam kesunyian dan keheningan Nazaret, benih keselamatan disemaikan, bertumbuh, berkembang menjadi matang dan menghasilkan buah berlimpah, yaitu penebusan. Dalam kesunyian dan keheningan keluarga Nazaret, Allah melaksanakan dan mewujudkan karya keselamatan-Nya.

 

Fakta kehidupan kita saat ini menunjukkan bahwa:

 

1)    Hidup terasa berat, sulit, penuh tantangan dan cobaan. Tiada seorang pun dan tiada sebuah keluarga, komunitas pun yang bisa menghindar.

2)    Kita dituntut untuk bekerja keras, sibuk dengan aneka hal, bergumul dengan bunyi-bunyian dunia.

3)    Walaupun demikian, kita tidak boleh tenggelam, apalagi hanyut dan karam-hancur di dalamnya.

4)    Bekerja dan berdoa harus menjadi aturan iman dan kehidupan kita. Kita dituntun untuk bekerja, seolah-olah kita akan jalani hidup seribu tahun ke depan; namun kita harus berdoa, seakan-akan kematian menyongsong kita hari ini.

5)    Kita dituntut untuk mengatur keseimbangan antara hal-hal yang bersifat jasmani dan rohani; kita dituntut untuk mengatur keharmonisan dalam keluarga dan komunitas kita.

Untuk itu, kita membutuhkan keheningan dan ketenangan untuk duduk merenung dalam kesunyian ... memeriksa debu dan kotoran yang mulai melengket pada tubuh, membersihkannya, melihat dan menilai pekerjaan ... bertanya, apakah semuanya masih searah dengan tujuan hidup dan tuntutan iman? Ada orang yang takut akan kesunyian, sehingga dia senantiasa melebur diri dalam kesibukan dan tenggelam dalam kebisingan sebab dalam kesunyian, dia melihat kelemahan dirinya, buah kejahatan dan dosanya. Ini adalah sebuah pelarian, ambang dari sebuah kehancuran. Orang yang suka akan kesunyian akan mampu membersihkan hidupnya dari segala debu dan kotoran yang tidak perlu.

Keluarga Nazaret menjadi model keluarga dan komunitas kita justru karena Maria dan Yosef menunjukan bagaimana mereka mengatasi pelbagai kebekuan, keraguan, kesulitan dan tantangan dengan selalu berkontak, berkomunikasi, berdialog baik di antara mereka sendiri maupun dengan Allah dalam suasana sunyi, hening dan tenang.

Persoalannya, mampukah kita berusaha menciptakan ketenangan dan kesunyian dalam kesibukan dan kebisingan hidup supaya kita bisa berkontak, berkomunikasi dan berdialog dengan sesama keluarga, komunitas dalam suasana penuh keterbukaan, pengertian dan dalam kasih sayang, terutama dengan Allah sendiri? Bukankah di saat sibuk, kita lupa untuk hening, berkontak dengan Allah? Bukanlah di saat mabuk dalam pesta natal, doa dikorbankan?

 

 

Selamat Bermenung...

Salam Kasih...

Buona Natale...

Dio Tio Benedica...

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget