Keuskupan Sibolga

Latest Post

 

Rekoleksi Menyongsong Misa Krisma dan 

Pembukaan Yubileum 800 Tahun wafat St. Fransiskus dari Asisi

Rekoleksi menyongsong misa krisma pembaharuan janji imamat dan pembukaan yubileum 800 tahun wafatnya St, Fransiskus. Rekoleksi ini dilaksanakan di aula sekola Katolik Sibolga, selasa 24 maret sampai rabu 25 maret 2026. Rekoleksi ini dipimpin oleh P. Guido Situmorang OFMCap dengan Thema “Dalam Kristuslah Kedekatan dengan Uskup, Umat Allah dan Sesama Imam untuk mendapat Arti Kehidupan Sejati”. Hantaran di pembukaan dari  P. Guido Situmorang menegaskan bahwa dalam rekoleksi ini diharapkan para imam nantinya setelah pembaharuan janji imamat mampu merefleksikan kedekatan diri dengan Tuhan melalui sikap membangun relasi dengan Uskup, Umat Allah dan sesama imam.

Perlu disadari bahwa kedekatan dengan Tuhan menjadi dasar panggilan sejati dan mampu menghadirkan panggilan Kristus yang sejati. Pastor Guido menegaskan bahwa dalam khotbah Paus Leo XIV menekankan sebelum melayani, imam harus menjadi murid yang setia. Kehidupan imam harus berpusat pada doa dan relasi nyata dengan Kristus. Oleh karena dalam permenungan itu, P. Guido mengatakan pentingnya kedekatan dengan Uskup dimana Imam dipanggil untuk membangun kesatuan dengan Uskup sebagai pemimpin gereja lokal, berjalan bersama dalam kasih Allah, dan membangun komunitas yang nyata.

Poin kedua dalam rekoleksi, pentingnya juga kedekatan dengan sesama imam baik melalui persaudaraan dan komunitas. Poin ini mengajak para imam untuk hidup sebagai sahabat dan saudara, bukan saingan. Diharapkan refleksi ini mendorong adanya fraternitas imamat untuk melawan isolasi dan kesepian imam, serta saling mendukung.

Poin ketiga P. Guido mengajak para imam untuk membangun kedekatan dengan umat Allah khususnya melalui pelayanan pastoral. Memang secara refletif kehadiran seorang Imam berasal dari umat dan diutus untuk umat. Rekoleksi ini menekankan perlunya menjadi gembala yang berbau domba, melayani umat dengan tulus, serta mendengarkan kebutuhan mereka tanpa mengisolasi diri. Para imam yang hadir diajak agar sikap atau tindakan kedekatan ini sendiri sebagai gaya hidup imam yang real, yaitu kedekatan dengan Tuhan, Uskup, sesama imam, dan umat Allah

Sahabat sahabat Komsos yang terkasih, thema rekoleksi ini menekankan bahwa identitas seorang imam sangat bergantung pada kesatuannya dengan Kristus dan pelayanannya di tengah umat. Rekoleksi ini menegaskan bahwa menjadi sahabat Kristus berarti hidup sebagai saudara di antara para imam dan uskup. Imam harus merasakan ke-bapa-an, persaudaraan, dan persahabatan dari uskup. Uskup dan imam diharapkan untuk saling dekat agar misi besar Gereja dapat dilaksanakan bersama-sama.

Persaudaraan yang tulus di antara para imam adalah fondasi untuk membangun komunitas yang hidup. Imam diminta untuk berbagi beban dan kegembiraan pelayanan, serta menghindari isolasi diri yang dapat melemahkan semangat panggilan. Imam dipanggil untuk melayani umat yang nyata, bukan sekadar konsep ideal, dengan kesaksian hidup yang kredibel. Karunia imamat bukanlah hak istimewa, melainkan tanggung jawab untuk melayani umat Allah dengan kasih yang murah hati seperti kasih Bapa. Imam dipanggil untuk membangun kembali kepercayaan dalam Gereja melalui rekonsiliasi dan kehadiran yang transparan di tengah masyarakat. Imam diingatkan bahwa tugas mereka adalah mewartakan Sabda Tuhan dan seluruh kedekatan ini berakar pada kedekatan dengan Tuhan melalui doa dan Ekaristi, yang menjadi energi bagi pelayanan gerejawi dan pengembangan Pastoral.
























 


SOMA

    Sahabat-sahabat Komsos yang terkasih, Hari ini, 22 Maret 2026, telah dilaksanakan Misa perutusan bagi Animator-animatris SEKAMI Keuskupan Sibolga dekanat Tapanuli di paroki St. Yohanes Penginjil Pinangsori. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh P. Bartolomeus Sihite, Pr. Vikep Pastoralis. 

    Sebelum misa perutusan, telah dilaksanakan  pelatihan SOMA (school of Missionary Animators) lanjutan selama 2 hari penuh  oleh pendamping KMKI KWI. Melalui pelatihan SOMA lanjutan ini, animator-animatris diharapkan siap untuk bermisi di paroki masing- masing mendampingi SEKAMI. Terima kasih kepada sembilan pastor paroki di dekanat Tapanuli, yang telah mengutus animator-animatrisnya.

Apa Itu SOMA?

SOMA (School of Missionary Animators) dalam Gereja Katolik adalah program kaderisasi intensif untuk membekali pendamping remaja (animator/animatris) SEKAMI (Serikat Kepausan Anak Misioner) agar mampu menjadi rasul muda pembawa injil. SOMA bertujuan membentuk jiwa misioner melalui pembekalan rohani, kreativitas, dan metode pastoral. 



Poin Penting SOMA:

Tujuan: Memperkuat kapasitas pendamping dalam mendampingi anak dan remaja misioner (SEKAMI).

Target Peserta: Remaja (biasanya usia SMP-SMA) dan orang muda yang ingin menjadi pendamping SEKAMI.

Tahapan Program: SOMA sering dibagi menjadi beberapa tahap, mulai dari menemukan kebanggaan sebagai remaja Katolik (SOMA 1), hingga penugasan nyata atau perutusan (SOMA 3). 

Materi Pembekalan: Meliputi cakrawala Karya Misi Kepausan, spiritualitas misioner, kreativitas mendampingi anak (gerak, lagu, permainan), dan pastoral Kitab Suci.

Fokus: Menghantar anak/remaja kepada Yesus dan menghantar Yesus kepada anak/remaja. Program ini sering diselenggarakan oleh Komisi Karya Misioner tingkat Keuskupan di Indonesia. (Sumber : KKI Keuskupan Semarang)

 



Minggu Pra-Paskah V, 22 Maret 2026

**

Lazarus dan Kita

Yehezkiel 37:12-14

Mazmur 130:1.2.4ab.4c.6.7.8

Roma 8:8-11

Yohanes 11:1-45 atau

Yohanes 11,3.17.20-27.33b-45

***********************************

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menghadiri dua Perayaan Ulang Tahun. Pertama, Perayaan Ulang Tahun seorang bocah kecil berusia dua tahun. Karena bocah tersebut merupakan anak tunggal, maka Ulang Tahunnya dirayakan semeriah mungkin. Untuk memeriahkan acara tersebut, maka keluarga mengundang sekelompok pelawak dan pemain sulap. Lagu  “Panjang Umurnya” bergemah dengan penuh kegirangan diiringi tempik sorak yang memekakkan telinga.

Kedua, Perayaan Ulang Tahun seorang kenalan yang sudah berbaring lemah di ranjang tidur karena didera salit komplikasi yang sudah berada di ambang batas. Tim medis sudah menegaskan sikap mereka bahwa hanya menunggu hitungan waktu kenalan itu akan meninggalkan bumi fana ini untuk selamanya. Untuk itu, semua sanak keluarga ingin merayakan Hari Ulang Tahunnya semeriah mungkin. Mereka mengundang sahabat-kenalan terdekat untuk menghadiri dan meneguhkan kenalan yang sakit itu di saat dia bergulat dengan maut.

Tatkala lilin ditiup dan lagu Selamat Ulang Tahun digemakan, kenalan yang berbaring lemah di ranjang sakitnya berkata dengan nada sayu-memilukan: “Jangan doakan agar saya panjang umur ya ... Saya senang kalau Tuhan memanggil saya dalam waktu singkat ini...”

Mendengar kata-kata tersebut, kami semua terdiam, heran dan kaget. Suasana menjadi cair  ketika saya mulai memimpin doa. Dalam doa itu, saya ungkapkan rasa syukur kami karena masih diperkenankan untuk berkumpul, berbagi rasa dan derita dalam doa serta menyerahkan kenalan yang mederita itu ke dalam penyelenggaraan kasih Allah.

Ternyata pujian “Panjang Umur” yang senantiasa didengungkan tatkala Ulang Tahun dirayakan dapat diterima dan disikapi secara berbeda-beda. Pujian “Panjang Umur” serentak diterima sebagai sebuah harapan dan beban bahwa hidup tidak selamanya menyenangkan dan tidak selamanya berjalan seperti yang diharapkan.

************************

Dalam kasus terakhir ini, dambaan terdalam dari kenalan yang terbaring lemah diranjang sakitnya itu adalah Tuhan bergegas memanggilnya, entah karena beban derita yang tidak tertanggungkan, maupun karena tugasnya sudah dituntaskannya secara purna. Persoalannya, sungguhkah dambaan hati kenalan yang sakit komplikasi ini merasa heran dan merasa sayang karena dia sepertinya tidak mensyukuri karunia kehidupan yang sungguh bernilai dan berharga di dalam dirinya tatkala sanak-keluarganya bersedia mengeluarkan biaya seberapa pun saja, asalkan bisa memperpanjang usianya, walaupun  sesaat saja? Apa gunanya riset, penyelidikan dibidang kedokteran dan medis apabila diperuntukkan “menahan” hidup selama dan sepanjang mungkin? Tim medis berjuang untuk mencari obat anti AIDS, karena dianggap sebagai penyakit misterius yang sanggup merenggut kehidupan secara kejam dan menyakitkan... Apa gunanya?

Pertanyaan ini serentak menjadi alasan bagi Marta dan Maria mengirimkan utusan untuk menyampaikan berita penting kepada Yesus: “Tuhan, dia yang engkau kasihi, sakit.” Dalam berita tersebut terbersit harapan kuat dalan diri Marta dan Maria agar Yesus segera datang untuk menyembukan Lazarus, saudara mereka.

Keterlambatan Yesus untuk mengunjungi Lazarus yang sakit dan akhirnya mati menjadi alasan bagi Marta untuk “mempersalahkan” Yesus. “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”. Marta merasa kesal karena Yesus tidak bersegera datang untuk memperpanjang kehidupan Lazarus, saudaranya.

Namun dengan kuat kuasa dan kewibaan-Nya, Yesus menegaskan bahwa penyakit, penderitaan dan kematian bukanlah akhir segalanya. Kematian bukanlah kegagalan untuk memperpanjang kehidupan yang tidak selamanya membahagiakan manusia.

Bagi Yesus, kematian diidentikan dengan “tertidur” sehingga bisa dibangunkan. Kematian yang membawa maut bersengat positif sebab akan menyatakan kemuliaan Allah... berkat penyakit yang membawa maut, Putera Allah akan dimuliakan.

Dalam konteks ini bisa dipahami, “Mengapa kenalan yang sakit sekarat itu” memohon agar Allah bersegera memanggilnya: Mungkin karena dia tidak sanggup lagi menahan deritanya atau mungkin dia tidak tega melihat sanak-keluarga dan handai-taulannya bersusah karenanya. Mungkin juga dia menganggap bahwa kematian bukanlah akhir, bukanlah sesuatu yang harus disesali. Gereja mengajarkan bahwa sesudah kematian ada kehidupan, entah bagaimana wujudnya, namun diyakini ada sesuatu yang baru, sama sekali lain dan bermutu sehingga didambakan oleh semua insan yang beriman.

Dengan cara yang khas, Yesus melukiskan kehidupan kekal dengan sebuah perjamuan: semua undangan terpilih hadir. Allah sebagai Bapa, Tuan Rumah yang Baik Hati hadir untuk menjamu semua undangan secara berkelimpahan. Kehidupan kelak juga diibaratkan dengan kegembiraan seseorang yang menemukan kembali barang atau dombanya yang hilang; kegembiraan seorang bapak yang berjumpa kembali dengan anaknya yang sudah sekian lama meninggalkannya.

Kegembiraan Marta dan Maria yang masih boleh merasakan kehadiran Lazarus saudara mereka merupakan kegembiraan yang sangat intens sebab tidak terikat oleh waktu dan tempat. Namun, tidak dijelaskan bagaimana reaksi Lazarus tatkala diperkenankan untuk hidup kembali.

o   Apakah dia merasa senang, karena bisa kembali ke dalam kehidupan duniawi; berkumpul dengan sanak-keluarganya?

o   Apakah dia merasa gembira karena masih diperkenankan untuk menghirup udara segar kehidupan?

o   Atau mungkinkah, dia merasa sedih, susah, kecewa karena impiannya untuk mengalami kebahagiaan hidup yang sudah akan dialaminya harus ditunda hingga waktu yang ditentukan baginya tiba?

o   Berapa lama lagikah saudara-saudaranya harus mendoakannya agar dia panjang umur di setiap Ulang Tahunnya, sebelum akhirnya dia meninggalkan bumi fana ini secara definitif?

Pertanyaan ini sangat manusiawi, namun sulit terjawab. Bagi Lazarus, Maria, Marta dan orang-orang sezamannya “kebangkitan dari antara orang mati” sama sekali tidak jelas. Namun, Yesus berusaha membuka wawasan mereka melalui peristiwa Lazarus: Kebangkitan terjadi sesudah orang meninggalkan hidup ini; kematian itu terjadi apabila Allah dalam diri Kristus berkehendak apakah seseorang dibangkitkan atau tidak dibangkitkan sesudah mengalami kematian hidup? Kebangkitan berkaitan erat dengan hidup, hidup kembali, tetapi hidup secara baru.

Peristiwa Lazarus merupakan kiasan mengenai apa yang terjadi dengan diri Yesus dan apa yang terjadi dengan semua orang yang percaya kepada-Nya. Namun, intinya ditemukan dalam Sabda Yesus bahwa apabila kita percaya kepada-Nya, mendengarkan Sabda-Nya dan melakukan pekerjaan-Nya, kita akan hidup, walaupun sudah mati. Melalui Sabda-Nya ini, Yesus menegaskan bahwa Dialah Jaminan Kebangkitan kita. Kuncinya, kita harus percaya kepada-Nya dan hidup kita harus terhubung dengan-Nya.. Bagaimana dengan kita dan iman kita kepada-Nya?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 

 

KRISIS HATI MANUSIA MODERN: 

Merefleksikan "Dilexit Nos" No. 9-14, Dalam Kacamata Visi Keuskupan Sibolga.

(Rekoleksi Kaum Berjubah Wilayah Dekanat Kepulauan Nias)


Selasa, 17 Maret 2026, Para Pastor, Suster, Frater dan Bruder yang berkarya di Dekenat Kepulauan Nias Keuskupan Sibolga berkumpul di Paroki Roh Kudus Lahusa Gomo, Nias Selatan untuk mengikuti Rekoleksi bersama menjelang masa Paskah. Rekoleksi ini dipimpin oleh Romo Sixtus Zalukhu, Pr, Pastor Paroki Lahusa Gomo dengan tema: KRISIS HATI MANUSIA MODERN: Merefleksikan "Dilexit Nos" No. 9-14, Dalam Kacamata Visi Keuskupan Sibolga.

Turut hadir dalam Rekoleksi ini adalah Pater Purwo, OSC, Vikjend Keuskupan Sibolga dan para pengurus Dekenat kepulauan Nias dengan jumlah peserta yang hadir adalah 160 orang. 

Dalam renungannya, pastor Sixtus mengajak para para Pastor, Suster, Frater dan Bruder tentang pentingnya menemukan kembali Cinta Hati Kudus Yesus di dalam tugas dan pelayanan di tengah dunia yang semakin dangkal akibat krisis. Dunia saat ini semacam kehilangan "hati" dan terjebak di dalam kedangkalan, konsumerisme dan peperangan. Di tengah krisis dunia yang semakin marak seperti itu, para Pastor, Frater, Suster dan Bruder diajak untuk sejenak kembali ke pusat iman, yaitu Hati Kudus Yesus yang merupakan simbol Kasih Allah sebagai kekuatan utama yang membawa harapan, yang bisa menyembuhkan perpecahan dan bisa menggerakan umat yang dilayani untuk membangun dunia  yang lebih manusiawi. 

Acara rekoleksi ini kemudian dilanjutkan dengan ibadat tobat dan penerimaan sakramen tobat bagi semua peserta rekoleksi yang dipimpin oleh Pastor Kanisius Jeramu, Pr Pastor Vikaris Paroki Roh Kudus Lahusa Gomo. Setelah itu dilanjutkan dengan perayaan ekaristi bersama yang dipimpin oleh Pater Purwo OSC, Vikjend Keuskupan Sibolga. Acara rekoleksi ini berpuncak pada acara jamuan kasih, makan siang bersama yang disiapkan oleh Para Pastor, Frater, Suster yang berkarya di paroki Lahusa Gomo dan para pengurus inti gereja yang berada di pusat paroki.







 


"Serahkanlah Perbuatanmu kepada Tuhan supaya Tercapailah Rencanamu"  
Amsal 16:3.
 (Rekoleksi Kaum Berjubah di Wilayah Dekanat Tapanuli )

Kamis 19 Maret 2026, rekoleksi Kaum Berjubah Dekanat Tapanuli dengan tema "serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan supaya tercapailah rencanamu"  Amsal 16:3. Rekoleksi ini dipimpin oleh Komunitas Pastoran dan Susteran Paroki St. Ludovikus Sipeapea.. Rekoleksi dilaksanakan di Gereja St. Yosep Pandan. Peserta yang hadir 153 peserta dari kaum berjubah baik Imam, Bruder, Frater  dan Suster yang berkarya di wilayah Dekanat Tapanuli Keuskupan Sibolga.

 

Permenungan dalam rekoleksi, Pastor Pio Silalahi mengambil tema dari Amsal 16:3, "Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu." Bagi "kaum berjubah" ayat ini bukan sekadar motivasi keberhasilan, melainkan dasar hidup panggilan dalam pelayanan dan hidup sehari-hari. Bagi "Kaum Berjubah" istilah yang merujuk pada para pelayan Tuhan yakni Imam, Bruder, Frater dan Suster dimana mereka yang mengabdikan hidup dalam pelayanan.



Pastor Pio menegaskan bahwa ayat ini mengandung refleksi teologis yang mendalam mengenai otoritas, motivasi, dan penyerahan diri. Amsal 16:3 menegaskan bahwa rencana akan berhasil jika berpusat pada Tuhan. Kaum berjubah dipanggil untuk menjaga motivasi hati melayani karena kasih kepada Tuhan, bukan demi pengakuan, popularitas, atau kenyamanan pribadi.

Kata "terlaksanalah" dalam ayat ini tidak selalu berarti rencana kita berhasil menurut standar duniawi tetapi berhasil menurut kehendak Tuhan. Menyerahkan perbuatan mencakup ketekunan dan kejujuran dalam perkara-perkara kecil. Pelayanan bukan sekadar khotbah di mimbar, melainkan gaya hidup sehari-hari yang memuliakan Tuhan.

Dalam Permenungannya, Pastor Pio Silalahi OFMCap. Memberikan permenungan dan beberapa poin untuk direnungkan sebagai berikut:

1. Penyerahan diri secara total bagi Allah

            Bagi mereka yang berada dalam posisi kepemimpinan spiritual, ada godaan besar untuk merasa bahwa keberhasilan pelayanan adalah hasil dari kepintaran berkhotbah atau manajemen gereja yang hebat.  Kaum berjubah dipanggil untuk melepaskan kendali mutlak atas hasil pelayanan dan mengaku bahwa Tuhanlah penggerak sejati di balik setiap rencana. 

2. Mengenal panggilan bersumber dari kehendak Allah

Amsal 16:2 yang mendahului ayat ini mengingatkan bahwa "Tuhanlah yang menguji hati".  Jubah yang dipakai adalah simbol kekudusan, namun motivasi di balik pelayanan harus selalu dimurnikan. Rencana yang terlaksana bukan berarti setiap keinginan manusiawi dikabulkan, melainkan bahwa rencana yang selaras dengan kehendak Allah akan ditegakkan oleh-Nya. Kaum berjubah harus memastikan bahwa rencana mereka bukanlah ambisi pribadi yang dibungkus dengan bahasa rohani. 

3. Bertanggung jawab dalam karya sebagai lanjutan Karya Allah bagi sesama.

Menyerahkan perbuatan bukan berarti menjadi pasif atau abai terhadap tugas pastoral. Kaum berjubah dipanggil untuk merencanakan dengan hikmat dan bekerja dengan tekun, namun tetap menaruh seluruh kepercayaan pada kedaulatan Tuhan. Keberhasilan tersebut harus berjalan di bawah pimpinan Roh Kudus. 

4. Menghadirkan sikap Kerendahan Hati sebagai dasar hidup dalam panggilan.

Dalam pelayanan, tidak jarang rencana mengalami tantangan atau tampak gagal secara manusiawi. Dengan menyerahkan segala perbuatan kepada Tuhan, kaum berjubah belajar untuk tidak menjadi sombong saat berhasil dan tidak putus asa saat menghadapi hambatan.

            Kegiatan ini juga diakhiri dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga. Dalam khobah, Bapa uskup menegaskan bahwa menjadi orang terpanggil berarti siap menyerahkan hidup secara total hanya pada kehendak Allah, sebagaimana dalam perayaan St. Yosep yang dirayakan pada 19 maret, dimana totalitas hidup Yosep yang bersedia menjadi penjaga keluarga Nazareth menjadi cerminan tanggungjawab penuh pada tugas keberlanjutan karya keselamatan dari Allah. KIta Kaum Berjubah belajar dan siap meneladani apa yang dihidup oleh St. Yosep yakni tidak menolak tetapi menerima apa yang diinginkan oleh Tuhan.

Bapa Uskup juga menghimbau untuk Kaum Berjubah yang hadir, bahwa harus mampu memulai dari diri sendiri dalam menanggapi panggilan Tuhan, kemudian dilanjutkan dalam komunitas hinggga melaksanakannya dalam karya masing masing untuk menghidupkan spiritualitas iman dalam diri umat beriman. Bapa Uskup juga, meminta agar dalam karya harus percaya bahwa semua selaras dengan karya dan kehendak Tuhan demi kebahagiaan umat beriman.

Kaum Berjubah memiliki kesempatan besar untuk dapat mewujudnyatakan kehendak Tuhan yakni menhadirkan kebahagiaan dan sukacita ditengah tengah umat yang merindukan Kehadirah Tuhan yang nyata. Bapa Uskup juga berterima kasih atas partisipasi dan kehadiran Kaum Berjubah ditengah masyarakat saat bencana alam yang lalu, karena bersedia hadir dan ikut berpastisipasi dalam membantu pemerintah saat penaggulangan bencana alam, semoga tetap setia hadir sebagai saudara bagi umat yang membutuhkan dan utamanya pada proses pemulihan bencana alam ini, tetap hadir dan menolong agar cepat terpulihkan.













 





Minggu Pra-Paskah IV, 15 Maret 2026

Lahir Buta, Dosa Orang Tua?

1 Samuel 16:1b.6,7,10-13a

Mazmur 23:1.3a.3b-4.5.6

Efesus 5:8-14

Yohanes 9,1-41

 

Pada suatu ketika, seorang ibu muda melahirkan bayinya. Dokter mendekatinya dan berkata kepadanya, “Ibu, saya sangat menyesal. Tetapi ibu harus kuat untuk menerima kejutan terbesar dalam hidup Ibu”.

Dengan berlinang air mata dan bibir gemetaran, Ibu muda itu bertanya, “Dokter, apakah bayi saya akan sembuh.. atau dia akan segera mati?

Hati Ibu muda itu sangat hancur sehingga dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Dokter pun berkata kepada Ibu muda itu, “Bayi ibu tidak akan mati. Dia akan buta dan tuli selamanya”. Saat itu, tangisan Ibu muda ini sungguh menyayat hati... Dia pun berkata, “Buta dan tuli... oh anakku yang malang... mau jadi apa? Tetapi, yakinlah, ibu akan selalu mencintaimu...”

Mendengar tangisan Ibu muda itu, Dokter bergumam di dalam hatinya, “Inilah adalah pengalaman yang sangat menyedihkan. Ini adalah kasus terburuk yang saya hadapi...adalah lebih baik, jika bayi itu meninggal di saat kelahirannya”.

Walau memilukan, Ibu muda itu merawat dan mendidik bayinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Akhirnya bayi yang tuli dan buta itu bertumbuh menjadi seorang Helen Keller, salah seorang  manusia yang terkenal, berguna dan bahagia. Dengan menggunakan indera penciuman dan peraba, dia rajin belajar untuk berbicara dan menulis. Kisahnya meluas dan dia diundang untuk berbicara kepada pelbagai kelompok  di seluruh dunia. Dia menyelesaikan Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi dan menulis sejumlah buku untuk memotivasi dan menyemangati manusia yang cacat dan sehat.

************************

Di saat meninggalkan Bait Allah, Yesus dan para murid-Nya berjumpa dengan seorang pengemis yang buta sejak lahir. Para murid bertanya kepada Yesus, “Mengapa seorang lahir cacat? Siapakah yang bersalah? Walaupun bahasa pertanyaannya berbeda, namun isi pertanyaan para murid kepada Yesus sama dengan isi pertanyaan ibu muda ketika mendengar bahwa bayinya lahir dalam keadaan: “Buta dan tuli... oh anakku yang malang... mau jadi apa? Namun, satu hal menarik yang terlontar dari mulut ibu muda ini, “Tetapi, yakinlah, ibu akan selalu mencintaimu...”

Berkenaan dengan pertanyaan para murid, siapakah yang bersalah, jika seseorang dilahirkan cacat? Terhadap pertanyaan ini Yesus menjelaskan bahwa:

Pertama, lahir dalam keadaan cacat bukanlah hukuman Allah atas dosa kedua orang tua. Anak yang lahir cacat berakar pada keterbatasan diri kita sebagai manusia. Semua manusia adalah ciptaan Allah yang terbatas. Tiada seorang manusia pun yang sempurna. Cacat sejak lahir bukan karena dosa dan bukan karena hukuman Allah, melainkan karena keterbatasan sel/benih yang ada dalam diri orang tua. Keterbatasan dan kekurangan sel/benih ini tidak pernah disadari oleh manusia. Keterbatasan sel/benih dalam diri orang karena kekurangan gizi, konsumsi obat kimia yang berlebihan, konsumsi makanan kimia yang tidak layak untuk kondisi tubuh, konsumsi minuman yang merusak tubuh). Kenyataan ini menegaskan bahwa cacat sejak lahir bukan karena dosa orang tua dan bukan hukuman Allah, melainkan karena keterbatasan dalam diri kedua orang tua.

Kedua, orang yang lahir cacat derajatnya sama dengan manusia yang lahir dalam keadaan normal. Orang cacat adalah pribadi yang bermartabat istimewa dan penting di hadapan Allah. Setiap pribadi, entah yang normal, entah yang cacat diciptakan Allah, untuk kemuliaan Allah dan diutus untuk menyempurnakan karya-karya Allah dalam diri kita masing-masing.

Hellen Keller, seorang bayi yang dalam keadaan tuli dan buta karena kelemahan sel/benih kedua orang tuanya bertumbuh menjadi seorang  manusia yang terkenal, berguna dan bahagia. Dengan menggunakan indera penciuman dan peraba, dia rajin belajar untuk berbicara dan menulis hingga akhirnya dia bisa menulis sejumlah buku untuk memotivasi dan menyemangati manusia yang cacat dan sehat. Dalam ketulian dan kebutaannya, kemuliaan Allah dinyatakan dalam dirinya dan dalam cinta kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti melimpahkan cinta mereka kepadanya. Hanya ketika Hellen tuli dan buta, dia bisa mengajar, memotivasi dan menyemangati semua orang cacat adan orang sehat. Hanya ketika Hellen tuli dan buta, kuasa Allah dinyatakan kepada dunia melalui kebesaran dan keagungan cinta kedua orang tuanya yang tiada henti mengalirkan isi cinta mereka kepada Hellen. Karya agung Allah disempurnakan dalam ketulian dan kebutaan Hellen dan disempurnakan oleh cinta kedua orang tuanya (Renungkan: Kita memiliki anak yang sehat, tanpa cacat. Sesungguhnya karya agung Allah dinyatakan dalam diri mereka. Namun orang tua justru membiarkan anak berlumuran kotoran, tampa memandikan, tanpa memoleskan mereka dengan bedak. Apakah dengan cara demikian, kedua orang tua yang sehat meneruskan dan menyatakan kemuliaan Allah?).

Ketiga, harus diakui bahwa orang cacat memiliki banyak kelemahan apabila dihubungkan dengan kemampuan untuk melihat dan mendengar, pengetahuan dan kekuasaan. Namun, mereka memiliki hati yang penuh kasih. Sebagai manusia yang terbatas, mereka membutuhkan bantuan orang sehat. Mereka merindukan kehadiran sesama, mendambakan persahabatan serta sentuhan kasih dari Allah. Mereka menjadi pribadi yang terbuka kepada Allah dan mengandalkan Allah. Karena itu, Yesus menyatakan bahwa orang yang lahir buta diciptakan bagi kasih sebab keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki justru mengarahkan mereka kepada Allah. Dari keterbatasan dan kelemahan yang dimiliki, mereka berseru kepada Allah dan menemukan Allah secara baru, yaitu Allah yang penuh kasih dan lembut hati, berbela rasa dan baik hati.

Berbeda dengan orang cacat, kita orang sehat berjuang untuk mencari pengaruh, pujian dan kekayaan untuk diri sendiri. Akibatnya, kita kerap menutup diri terhadap Allah dan sesama karena merasa cukup dengan diri sendiri. Ironisnya, di saat mengalami kegagalan, sakit, kelemahan dan kesepian, kita baru sadar bahwa kita bukanlah manusia yang mahakuasa dan tidak cukup dengan diri sendiri. Kita membutuhkan Allah dan sesama.

*******************

Seorang imam mendirikan sebuah yayasan untuk merawat umatnya yang cacat agar dia bisa menjadi imam yang baik dengan melakukan kebaikan kepada orang cacat. Imam ini tidak pernah berpikir bahwa justru orang cacat inilah yang akan berbuat baik kepadanya.

Pada suatu saat, Uskupnya menjumpainya dan bertanya kepadanya, “Sungguhkan Anda mendirikan yayasan ini untuk berbuat baik kepada orang-orang yang kurang beruntung? Iman itu dengan jujur menjawab, “Justru orang yang kurang beruntung inilah yang berbuat baik kepada saya. Orang-orang yang saya bantu inilah yang membantu saya. Mereka mengajarkan saya untuk mencintai dan menghidupi hal yang paling berharga dalam diri saya, yaitu “bela rasa.”

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget