Keuskupan Sibolga

Latest Post

 




Minggu Biasa II

18 Januari 2026

Yesus, Anak Domba Allah

Yesaya 49:3,5-6

Mazmur 40:2, 4ab, 7-8a,8b-9,10

1 Korintus 1:1-3

Yohanes 1,29-34

************************

 

Pada bulan April 1865, Jenazah Presiden Abraham Lincoln yang terbunuh dibaringkan selama beberapa jam di Cleveland, Ohio. Jenasah Sang Presiden sedang dalam perjalanan dari Washintong D. C. ke Springfield, Illinois, tempat pemakamannya.

Dalam deretan panjang para pelayat, ada seorang wanita kulit hitam bersama bocah lelakinya yang masih kecil. Ketika keduanya tiba di depan jenazah Sang Presiden, wanita kulit hitam itu mengangkat putranya seraya berkata dengan suara serak, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela mati untukmu.”

Adalah benar perkataan wanita kulit hitam bahwa Presiden Abraham Lincoln rela mati untuk anaknya dan untuk semua warga Amerika yang berkulit hitam. Sesungguhnya, Abraham Lincoln adalah Pahlawan dalam Kehidupan Nyata yang sangat berbeda dengan para pahlawan lainnya, seperti perawat, guru, dll. Mereka juga menyelamat manusia: anak-anak yang diperlakukan secara kasar, remaja yang melarikan diri, penduduk lanjut usia yang dieksploitasi. Akan tetapi, mereka lakukan tanpa pengorbanan diri yang tinggi.

Abraham Lincoln, Pahlawan Kehidupan Nyata memiliki kisah yang berbeda. Dia menunjukkan kepada dunia bahwa berperang melawan kejahatan menuntut kerelaan untuk menderita, bahkan menuntut pengobanan dan kehilangan nyawa. Akan tetapi, penderitaan dan pengorbanan Yesus melampaui penderitaan dan pengorbanan Abraham Lincoln. Penderitaan dan pengorbanan Yesus adalah Penderitaan Hamba Yahwe, Anak Domba yang Dibawah ke Tempat Pembantaian demi keselamatan seluruh umat manusia, bukan untuk sekelompok manusia.

****************************

Pewahyuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dinyatakan tatkala Yohanes membaptis Yesus di sungai Yordan. Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus mendatangi-Nya, dia pun bernubuat: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia”.

Kita patut bertanya, “Bukankah hal yang aneh kalau Yohanes Pembaptis dengan penuh kemeriahannya justru memperkenalkan Yesus sebagai Anak Domba, Sang Anak Domba Allah, Binatang Kecil yang Lemah Lembut?

Dalam arti tertentu, seruan Yohanes, “Lihatlah Anak Domba Allah” sejajar dengan jawaban penuh misteri atas pertanyaan Ishak, anak terkasih Abraham. Allah telah berjanji kepada Abraham bahwa dia akan menjadi ayah dari banyak orang “lebih banyak daripada semua bintang-bintang di langit” (Kej 22,17).

Namun, Allah meminta kepadanya untuk mengorbankan anak yang dikasihinya itu. Keduanya bergegas ke gunung: Ishak membawa kayu, sedangkan Abraham membawa pisau dan api. Ishak berkata, “Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu? Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku” (Kej 22,7-8).

Jawabannya justru diberikan oleh Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Untuk memahami makna terdalam dari anak domba bagi kaum Yahudi, kita harus mengerti kisah Kitab Keluaran.

 

o   Darah anak domba justru menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan memungkinkan mereka berlangkah menuju alam kemerdekaan, ke Tanah Terjanji.

o   Dalam pesta Paskah, kaum Israel merayakan kemerdekaan ini dengan menyantap anak domba yang dibakar di atas perapian.

 

Nabi Yesaya berbicara mengenai “Hamba Yahwe yang Menderita;” dia disiksa karena dosa manusia dan demi keselamatan dan kedamaian manusia: “Ia seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian... Ia tidak membuka mulutnya... Ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak” (Yes 53,7.12).

Di hadapan kekuasaan dan kekuatan dasyat pasukan kekaisaran, berdirilah Anak Domba Allah. Apa yang dilakukan Anak Domba itu? Anak Domba Allah merobohkan tembok-tembok ketakutan, agresi, kekerasan dan dosa yang memenjarakan manusia dalam dirinya sendiri dan mendorong mereka untuk mencari kemuliaan dirinya sendiri. Dia akan menyebarkan dalam diri setiap manusia hidup yang baru, yaitu hidup yang menyatu dengan Allah, sesama dan dengan batin yang paling dalam sembari menyebarkan benih-benih demi perdamaian universal.

Dalam dunia kita saat ini, hidup beberapa nabi hebat seperti Yohanes Pembaptis. Mereka menyiapkan hati kita untuk menerima Yesus. Tetapi, kita harus ingat bahwa ketika Yesus datang,...

 

o   Dia tidak datang sebagai Anak Domba yang Penuh Kuasa, tetapi sebagai Anak Domba yang Lemah Lembut, Pilihan Allah yang Terkasih.

o   Dia datang dengan cara yang sangat sederhana, membuka hati kita bagi sesama dengan menghembuskan napas cinta, damai dan berkas cahaya yang tenang, dengan pelukan dan ciuman yang lembut.

o   Dia datang di kedalaman batin kita, ruang suci dalam batin kita, yaitu harta termulia yang kita miliki, yang tersembunyi di balik semua bentuk ketakutan, tembok-tembok dan kemarahan yang ada dalam diri kita agar kita bisa berkembang dalam Roh Kasih-Nya.

 

Dari dulu hingga saat ini, Yohanes pembaptis mengundang kita untuk peka terhadap suara dan kehadiran Yesus yang Lembut; dia mengundang kita untuk percaya kepada-Nya dan terbuka untuk membangun persahabatan dengan-Nya. Kita dipanggil dan diundang untuk menjadi pengikut Sang Anak Domba yang Lebut, bukan menjadi penguasa.

Walaupun Yohanes mengenal Yesus sebagai Anak Domba, Sosok Yang dipilih Allah, dia tidak berhenti membaptis orang untuk bisa mengikuti Yesus. Dia terus membaptis dan mendesak mereka untuk menjadi murid-murid, Yesus, Anak Domba Allah. Sesungguhnya sangat wajar apabila dia mengirim semua muridnya kepada Yesus. Namun, kenyataannya dia, nabi terakhir justru melanjutkan perutusannya sebagai nabi Yahudi. Tindakannya ini memperlihatkan betapa pentingnya iman dan tindakan iman kita saat ini: menunjuk dan menuntun semua orang untuk berjumpa dan akhirnya mengimani Yesus, sebagai Anak Domba Allah..

Wanita kulit hitam dengan suara keras dan serak berani berkata, “Manisku, tataplah yang lama kepadanya. Pria ini rela mati untukmu.” Yohanes Pembaptis dengan suara lantang berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah yang Menghapus Dosa Dunia. Apakah kita bersedia menunjuk dan menuntut orang-orang yang belum mengenal Yesus untuk berjumpa dengan-Nya, mengalami kasih-Nya melalui cara hidup, perkataan dan perbuatan kita yang sesuai dengan ajaran Yesus, Sang Anak Domba Allah sendiri?

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih...

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica.....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

 

 




Pesta Pembaptisan Tuhan

“Baptis: Cinta dan Pengampunan”

Yesaya 42:1-4.6.7

Mazmur 29:1a.2.3ac-4,3b,9b-10

Kisah para Rasul 10:34-38

Matius 3:13-17

*****************************

Minggu, 11 Januari 2026

“Kemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencoba mencegah Dia, katanya, ‘Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku”

(Matius 3:13-14)

 

Pastor Paul Belliveau adalah seorang Imam Misionaris dari Flushing, New York. Dia berkarya di sebuah Paroki Perkampungan, Honduras, tempat tinggal para pengungsi. Di paroki ini tertampung lebih dari sepuluh ribu pengungsi dari El-Salvador.

Pada suatu hari, tentara El-Salvador mengempung perkambungan pengungsi ini. Mereka memperlakukan warga perkampungan tersebut seperti sebuah penjara.

Pada hari Minggu, Pastor Paul memberikan homilinya dengan menggunakan bahasa kebencian dengan menekankan tiga kata kunci: tuduhan, kutukan dan pembasmian. Dia memperlihatkan bahwa baik pemberontak maupun tentara El-Salvador menggunakan kata-kata tersebut dalam program radio mereka.

Pastor Paul menyimpulkan isi homilinya dengan kalimat ini: Yesus menolak untuk terlibat dalam permainan ini. Yesus justru menggunakan bahasa Cinta, yaitu pengampunan di tengah-tengah kebencian.” Hati semua orang Katolik yang mendengar kesimpulan himili Pastor Paul, baik dari pihak pemberontak/pengungsi maupun tentara El-Salvador menjadi sedih.

Seusai misa, seorang pemuda Katolik merebut mikrofon dan berterian, “Pastor Paul berkata bahwa kita semua harus mencintai dan mengampuni, tetapi itu semua omong kosong.” Orang Katolik lain juga berteriak dalam mikrofon yang sama, “Pastor Paul tidak memahami situasi kita... Kita harus melawan kebencian dengan kebencian, bukan dengan cinta dan pengampunan.”

 

Membenamkan Diri:

Dibaptis dengan Kenyataan Hidup Manusia yang Berdosa

Yesus mengawali karya Mesianik-Nya di tempat Yohanes Pembaptis membaptis semua orang yang datang kepadanya. Sebelum dibaptis, mereka mengaku dosa mereka. Namun, Yesus yang tidak berdosa, juga datang kepadanya untuk dibaptis. Untuk apa? Yesus yang tidak berdosa memberikan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis sebagai penyataan Cinta-Nya yang mendalam dengan menyatukan diri-Nya dengan semua manusia pendosa; Penyataan Kesediaan-Nya untuk dibaptis dengan kenyataan hidup manusia yang berdosa serta Penyataan Kesetiaan dan Kerelaan-Nya untuk menanggung semua dosa kita, umat manusia.

Dalam peristiwa pembaptisan di Sungai Yordan, Yesus memberikan diri-Nya dibaptis dengan membenamkan diri-Nya; Dia masuk ke dalam sungai Yordan, tempat pembuangan semua kesalahan dan dosa manusia. Semua orang yang sudah dibaptis keluar dari air Yordan dalam keadaan bersih karena:

Pertama, Yesus yang tidak berdosa menceburkan/membenamkan diri-Nya ke dalam air Yordan yang kotor serta membiarkan diri-Nya dibaptis dengan kesalahan dan dosa semua umat manusia.

Kedua, Yesus membiarkan diri-Nya dibaptis dengan kesalahan dan dosa kita, umat manusia agar Dia bisa mengangkat dan membersikan semua kesalahan dan dosa kita, sehingga kita yang sudah dibaptis dan dibersihkan menemukan jalan untuk kembali kepada Bapa yang selalu dan setia menantikan kedatangan anak-anak-Nya.

Ketiga, Yesus membiarkan diri-Nya dibaptis dengan semua kesalahan dan dosa kita sebagai penyataan penyatuan diri-Nya yang utuh dan mendalam dengan kita, semua manusia yang berdosa. Rasul Paulus berkata, “Dia yang tidak berdosa membiarkan diri-Nya berdosa agar Dia bisa menyelamatkan kita, manusia yang penuh dosa.”

 

Baptisan: Cinta dan Pengampunan...

Peristiwa pembaptisan Yesus adalah peristiwa yang sangat istimewa. Dalam peristiwa pembaptisan-Nya di sungai Yordan, Yesus menyatakan Wajah Allah, Bapa-Nya yang sesungguhnya, yaitu Bapa yang Maha Cinta, Maha Rahim, Maha Belas Kasih dan Maha Pengampun.

Dalam kekuatan dan keagungan cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya, Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya mengampuni semua kesalahan dan dosa kita. Allah membebaskan kita semua yang bersalah dari hukuman yang menyudutkan dan mengucilkan kita dari rangkulan cinta-Nya serta menuntun kita untuk menyerahkan dan memercayakan seluruh diri kita kepada kehendak Allah. Allah mengampuni kita bukan karena jasa kita, melainkan semata-mata karena kedalaman cinta, kerahiman dan belas kasih-Nya kepada kita.

Sebagai pribadi yang dibaptis, kita sudah dibersihkan dan diampuni. Kita menjadi milik Allah dan Gereja, Tubuh Mistik-Nya. Berkat kekuatan rahmat yang ditanamkan Allah pada saat kita diciptakan dan dibaptis, kita sejatinya adalah pribadi/insan pencinta dan pengampun. Kodrat kita, ciptaan yang terbaptis sebagai insan pencinta dan pengampun bersumber dari atau lahir dari inti iman kita akan cinta, kerahiman dan belas kasih Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus: Dia, Sang Cinta sudah menanamkan cinta dan lebih dahulu mencintai dan mengampuni kita.

Sebagai insan pencinta dan pengampun, kita harus yakin bahwa dalam cinta, ada pengampunan. Di setiap pengampunan, wajah Allah, Sang Cinta yang penuh kerahiman dan belas kasih dinyatakan kepada sesama dalam dan melalui wajah kita: perkataan dan perbuatan kita. Pada tahapan ini, kita, pribadi yang dibaptis dituntut untuk selalu sadar dan beriman bahwa cinta dan pengampunan adalah hakikat Allah sebagai Bapa yang Maharahim dan Mahakasih dan hakikat diri kita sebagai manusia, ciptaan Allah serta pribadi yang dibaptis.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa cinta, kerahiman, belas kasih, kemurahan hati dan pengampunan merupakan kebutuhan mendesak di zaman ini. Manusia yang dikuasai oleh nafsu duniawi semakin menjauhkan diri dari kehidupan yang dikehendaki Allah: manusia dikuasai oleh kecurigaan, persaingan, kebencian dan balas dendam. Dunia harus menemukan wajah Allah yang penuh cinta, kerahiman dan belas kasih dalam diri kita, pribadi yang dibaptis agar pikiran dan hati mereka dibentuk untuk hidup dalam cinta kasih dan pengampunan. Mengampuni merupakan keputusan aktif untuk membangun kembali hubungan yang harmonis dengan Allah dalam diri sesama. Kita semua, pribadi-pribadi yang dibaptis harus memiliki keutamaan dan kerelaan untuk mencintai dan mengampuni tanpa syarat dan tanpa batas. Kita hanya diselamatkan oleh cinta dan pengampunan. Semua manusia membutuhkan cinta kasih yang mengampuni tanpa syarat.

Cinta, kerahiman dan belas kasih Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus jauh lebih besar dari semua kesalahan dan dosa kita. Hati-Nya adalah Cinta-Nya, yaitu Cinta yang penuhi kerahiman dan kasih sayang. Dengan kekuatan Cinta, Kerahiman dan Belas Kasih-Nya, Allah memulihkan kembali relasi kita dengan-Nya yang rusak karena kesalahan dan dosa kita agar kita menjadi baik dan sempurna. Belas kasih Allah mengatasi semua dendam dan kemurkaan. Allah adalah Bapa yang mencintai anak-anak-Nya tanpa syarat dan selalu memberikan hati-Nya untuk menyelamatkan kita, kendatipun kita tidak setia. Karena itu, para pemazmur menyerukan madah: “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia (bdk. Mzm 103:8, 145:8)”

Paus Fransiskus menegaskan bahwa sikap cinta dan pengampunan akan membawa perubahan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang-orang yang menerima pengampunan.  Cinta, belas kasih, kerahiman dan pengampunan akan membangkitkan sukacita. Pengampunan membuat hati terbuka pada harapan akan hidup baru untuk berubah. Sukacita pengampunan tidak terungkapkan, tetapi selalu menaungi hidup manusia serta tidak terbatas oleh waktu, keadaan, dan tempat. Sumbernya adalah cinta, belas kasih dan kerahimam Allah yang datang menjumpai dan menyatukan diri-Nya dengan manusia untuk meruntuhkan tembok egoisme yang mengelilingi manusia, agar pada gilirannya, manusia menjadi sebagai sarana belas kasih.

Pengampunan sangat berarti bagi manusia yang dikuasai oleh dosa. Kesadaran akan keberdosaan diri, membuat manusia jatuh dalam kesedihan. Karena itu, kata-kata kuno yang mendorong jemaat perdana untuk senatiasa bersyukur harus senantiasa direnungkan:

Kenakan dirimu dengan sukacita cinta dan pengampunan karena selalu direstui dan diterima Allah. Bergembiralah dalam sukacita cinta dan pengampunan itu. Setiap orang yang bersukacita dalam cinta dan pengampunan melakukan apa yang baik, memikirkan apa yang baik, dan memandang rendah kesedihan. Semua orang yang mengesampingkan kesedihan dan mengenakan sukacita cinta dan pengampunan akan hidup dalam Allah.”

 

Apakah kita, kaum terbaptis sadar dan beriman bahwa sukacita akan memenuhi hati kita apabila dengan kekuatan cinta, kita rela dan tulus mengampuni sesama? Inilah kodrat dan nilai hidup tertinggi dan termulai dari kita, pribadi yang dibaptis: menjadi insan pencinta dan pengampun....

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buona Domenica...

Dio Ti Benedica....

 

 

Alfonsus Very Ara, Pr





    Kerendahan hati iman adalah sikap batin yang mengakui ketergantungan total pada Tuhan, menyadari keterbatasan diri, dan tunduk pada kehendak-Nya, bukan sekadar tidak sombong atau sederhana. Sikap ini melibatkan penyerahan diri, tidak mengandalkan kekuatan sendiri, dan sungguh memprioritaskan Tuhan di atas ambisi pribadi, seperti teladan Yesus yang mengosongkan diri dan melayani. Sikap ini adalah fondasi atau dasar iman yang kuat, memungkinkan kita menerima kasih karunia dan perlindungan ilahi. 

Ciri-ciri Kerendahan Hati Iman Kristiani:

  • Menyadari Keterbatasan: Mengakui bahwa segala kemampuan berasal dari Tuhan dan manusia itu terbatas.
  • Tunduk pada Kehendak Tuhan: Menerima kedaulatan-Nya dan taat pada perintah-Nya, seperti dalam doa dan hidup sehari-hari.
  • Tidak Sombong : Menghindari keangkuhan dan sikap merasa lebih dari orang lain, bahkan dalam keberhasilan.
  • Bergantung Penuh: Menggantungkan diri sepenuhnya pada kekuatan Tuhan, bukan kekuatan sendiri, terutama saat menghadapi kesulitan.
  • Melayani Sesama: Mengambil teladan Kristus dengan merendahkan diri untuk melayani, bukan meninggikan diri. 

Hubungan dengan Iman:

  1. Fondasi Iman: Kerendahan hati memungkinkan iman yang jujur dan penyerahan diri yang penuh kepada Tuhan.
  2. Menerima Kasih Karunia: Orang yang rendah hati lebih mudah menerima kasih karunia dan bimbingan ilahi. Perumpamaan pemungut cukai yang berdoa dengan rendah hati (Lukas 18:9-14) menunjukkan bahwa ia pulang dalam keadaan dibenarkan, bukan orang Farisi yang sombong. 

    Sikap ini menghasilkan kesalehan, rasa aman, dan kepuasan. Mendatangkan kehormatan dari Tuhan, karena Tuhan menentang yang sombong tetapi mengasihani yang rendah hati.

 



Hari Raya Penampakan Tuhan

“Di Betlehem”

Matius 2:1-12

Minggu, 4 Januari 2026

“Dan engkau Betlehem... Engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil;... dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku”

(Matius 2:5-6)

******************************

 

Pada suatu malam yang terang, seorang putri kecil bermain petak umpet bersama anak-anak sekampunya. Karena alasan yang sungguh-sungguh tidak diketahui, anak-anak sekampung berhenti bermain, sementara putri kecil ini masih bersembunyi. Putri kecil ini mulai menangis.

Kakeknya yang sudah tua keluar dari rumah mereka untuk mencari tahu, apa yang membuat cucunya menangis. Setelah mengetahui apa yang terjadi, Sang Kakek berkata kepada cucunya:

“Cucuku, janganlah menangis karena anak-anak itu tidak datang mencari dan menemukanmu. Sebaiknya, kamu belajar dari kekecewaanmu malam ini: kehidupan ini diibaratkan dengan sebuah permainan antara Allah dan manusia. Kita, manusia selalu tidak jujur dalam permainan sehingga Allah selalu menangis. Kita tidak sadar bahwa Allah sudah datang untuk mencari kita. Setiap saat, Allah menunggu kita untuk menemukan-Nya, namun kita justru mencari-Nya di tempat yang lain sesuai dengan pikiran kita.”

 

Mengapa Betlehem?

Setelah dikejutkan oleh para Majus yang mencari Sang Raja Baru, Herodes memanggil semua Imam kepala dan ahli Taurat. Berdasarkan nubuat Kitab Suci, mereka pun mengetahui bahwa tempat kelahiran Sang Raja Baru adalah Betlehem. Akan tetapi, mereka sendiri tidak sudi bergerak menuju Betlehem untuk mencari dan menemukan-Nya. Mengapa?

Seperti Raja Herodes, para Imam dan ahli Taurat, mayoritas manusia di bumi ini mengetahui kebenaran, namun justru menjauhinya. Hati mereka tidak tergerak untuk mencari dan menemukan-Nya sebab mereka tidak menerima kalau “Sang Mesias lahir di tempat yang terpencil/kecil/udik.” Padahal inilah sifat Allah dan pilihan-Nya. Israel dipilih Allah sebab bangsa ini kecil di masa itu. Daud pun dipilih dan diurapi menjadi raja karena dialah yang terkecil dari semua saudaranya.

Betlehem adalah sebuah dusun kecil, sederhana dan tidak dikenal. Dusun ini terletak lebih kurang delapan kilometer, bagian Selatan Yerusalem. Betlehem tidak memiliki arti apa pun dan tidak sebanding dengan Yerusalem: ciri yang paling unik dari dusun kecil ini adalah kesunyian. Situasi ini sangat kontras dengan Yerusalem yang menjadi pusat Kerajaan Israel, pusat kegiatan politik, kebudayaan dan keagamaan. Yerusalem diwarnai dengan kesibukan, kebisingan dan persaingan.

Uniknya, kesunyian Betlehem justru digemahkan dan dimadahkan dalam Syair Natal. Betlehem digelari kota yang sunyi senyap, tenang dan tenteram. Bagi Mikha (Mikha 5, 1), Betlehem adalah “yang terkecil di tanah Yehuda”.

Penginjil Lukas menempatkan Betlehem dalam posisi yang kontras dengan Roma: Roma memperlihatkan kemegahan, keperkasaan, kemasyuran serta kekasaran. Semua kekuasaan dan kekuatan berada di tangan Kaisar, diatur dan dikendalikan seturut kemauannya. Betlehem menyingkapkan kelembutan, keluwesan, keserhanaan dan karya yang agung. Dari kesunyian, kelembutan, kelusan dan kesehanaan datang Sang Juru Selamat.

Walaupun Betlehem hanyalah sebuah dusun kecil, namun dari kekecilannya lahir sejumlah sosok terkenal dalam sejarah penyelamatan, terutama Boas yang memperisterikan Rut (Rut 2, 4), Isai, ayah Daud (Rut 4, 22; I Samuel 16, 1), anak-anak Zeruya: Yoab, Abisai dan Asael (II Samuel 2, 18-32), Daud (I Samuel 17, 12). Daud diurapi menjadi Raja di dusun kecil ini. Karena Daud, dusun kecil Betlehem ini disebut Kota Daud (I Samuel 20, 6; Lukas 2, 4-11).

Nabi Yesaya menubuatkan bahwa satu tunas akan keluar dari tunggul Isai, yaitu dari Wangsa Daud (Yesaya 11, 1-10). Dalam nubuatnya, Mikha menyebutkan bahwa Betlehem akan menjadi tempat kelahiran Sang Mesias, pemimpin bangsa Israel (Mikha 5, 1), “Dan engkau hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, daripadamu akan bangkit seorang yang akan memerintah Israel”.

Ketika Natal tiba, kita pasti membayangkan dan memikirkan Betlehem. Alam pikiran dan bayangan kita tertuju pada malam yang dingin, bintang yang bertaburan, penginapan yang penuh, penolakkan, padang, palungan, lembu-lembu dan para gembala yang berjaga.

Matheus berkisah bahwa Yesus dilahirkan di Betlehem, di tanah Yudea seturut nubuat Nabi Mikha. Lukas bercerita mengenai kedatangan Malaikat Tuhan. Dia datang memberitakan kabar suka cita, yaitu kelahiran Sang Juru Selamat kepada para gembala. Serombongan bala tentara Surgawi bernyanyi memuliakan Allah: kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Setelah para Malaikat meninggalkan mereka, para gembala berkata satu kepada yang lain: “Mari kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang dikatakan Malaikat Tuhan kepada kita”.

Ajakan para gembala ini serentak menjadi ajakan bagi kita dan semua orang yang berkenan kepada Allah: kita diajak untuk pergi ke Betlehem. Namun,...

 

o   Betlehem bukanlah tempat, melainkan suasana yang mendukung dan memotivasi kita untuk berkembang dalam iman dan semua aspeknya berkat perjumpaan dengan Sang Mesias;

o   Betlehem bukanlah pilihan, melainkan program hidup bagi kita dan semua orang pilihan Allah.

 

Apa yang Diharapkan dari Betlehem?

Pada Hari Raya Penampakkan Tuhan ini, kita diajak untuk pergi ke Betlehem, tempat Sang Juru Selamat dibaringkan. Apa artinya Betlehem bagi kita, orang-orang yang berkenan kepada Allah?

Pertama, di Betlehem kita akan menjumpai Sang Bayi Al masih yang berbaring lemah di palungan. Bayi itu adalah Iesu (Yesus: Allah yang menyelamatkan), Sang Juru Selamat, Kristus, Tuhan.

Dalam diri-Nya, janji Allah bagi manusia terpenuhi, “Hari ini telah lahir bagi Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud. Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan”.

Allah hadir dalam rupa Seorang Bayi, seorang Anak Kecil yang Lemah. Kita pasti bertanya, “Mengapa Allah tidak hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia? Apabila Tuhan hadir dalam sosok manusia yang agung, perkasa dan mulia, Allah pasti mendapatkan tempat penginapan yang layak di kota Betlehem.

Jalan pikiran Allah berbeda dengan jalan pikiran manusia. Dengan memilih rupa Bayi yang Lemah, Allah ingin mengubah pandangan manusia yang terlalu mengagungkan dan mendewakan hal-hal duniawi serta mengabaikan hal-hal yang kecil, walaupun sangat berarti untuk kehidupan. Manusia sibuk memperjuangkan nama baik, pengaruh, kekayaan dan kekuasaan. Allah adalah urusan kecil yang sama sekali tidak menambah apa pun untuk kehidupan sehingga sering dilupakan. Manusia baru mengingat dan memberikan tempat kepada-Nya setelah menuntaskan urusan duniawi.

Kehadiran Allah dalam rupa Bayi yang Lemah ingin mengubah pandangan hidup manusia yang selalu meremehkan hal-hal yang kecil, walaupun sangat penting. Allah itu sangat penting, walaupun hadir dalam wujud “Orang Kecil”.

Allah mencintai segala sesuatu yang dipandang hina di mata manusia. Dia mencintai Bayi yang Lemah dan Tidak Berdaya; Dia mencintai orang-orang polos hatinya, palungan ternak dan para penjaga ternak. Dia tidak jijik dengan bauh busuk yang menyengat, dengan kebodohan dan kekotoran lahiriah, dengan orang-orang yang remehkan. Dia menghindari istana, kaum bangsawan dan orang-orang yang membuat dirinya agung. Dia mendatangi dan menjumpai orang-orag yang disisihkan dan dibuang dari pusat kehidupan karena dipandang tidak bermartabat.

 

Kedua, di Betlehem, kita diajak untuk mempercayakan segala sesuatu yang tidak berarti, yang kecil, yang kurang dipeduli, yang berada di luar perhitungan manusiawi kepada Allah, yang akan menuntun kita kepada suatu akhir yang dasyat, ke masa depan yang cerah. “Betlehem, Efrata” dapat dijumpai di mana-mana, terutama:

 

o   Di saat penindasan berubah menjadi pengamanan; di saat rasa cemas berubah menjadi rasa gembira;

o   Di saat rasa tertekan berubah menjadi rasa yang penuh kebebasan;

o   Di saat rasa resah berubah menjadi rasa aman; di saat suasana cekcok berubah menjadi tenteram;

o   Di saat orang yang tidak memiliki tumpangan, diberikan tumpangan;

o   Di saat orang yang dirugikan, dipulihkan nasibnya;

o   Di saat air mata berubah menjadi gelak tawa.

 

Di mana ada Betlehem, di sana ada Natal dan ada Sang Mesias yang Hina. Sebab itu, Betlehem bukan lagi menjadi sebuah kota semata, melainkan suatu program hidup.

Karena itu, Saya berkata kepada Anda, “Tuhan boleh lahir seribu kali di Betlehem, tetapi jika Tuhan tidak pernah lahir dalam hidup kita, maka sia-sialah pesta Natal.”

 

Kita hanya bisa menjumpai Allah apabila kita mengarahkan pikiran dan hati kita ke tempat Dia berada, yaitu di antara yang Terkecil dan di antara Orang-orang Kecil. Akal budi kita mencari Allah, Sang Juru Selamat, namun hanya Sabda Allah dan Terang-Nya yang bisa menyatakan dan menuntun kita untuk menemukan-Nya. Akal budi berkata, “Sang Juru Selamat sudah Hadir dan Tinggal di antara kita,  manusia,” namun hanya Wahyu Allah dan Terang-Nya yang bisa menjelaskan identitas-Nya kepada kita.

 

Karena alasan inilah, maka:

 

o   Bintang Ajaib yang dilihat, menerangi dan menuntun para Majus padam/tidak menyinarkan Terang-Nya di Yerusalem, terutama di hati Raja Herodes.

o   Bintang Ajaib yang sesungguhnya bukanlah meteor yang bertaburan di langit, melainkan Terang Sang Mesias yang Baru Lahir: Dia sendirilah yang menuntun pikiran dan hati kita untuk menemukan-Nya. Akal budi tidak berdaya di saat menghadapi Sang Terang Sabda Allah, sebagaimana bintang lenyap di saat matahari bersinar terang.

o   Apakah kita bersedia diterangi oleh Sang Bintang, yaitu Mesias dalam Rupa Bayi yang Hina untuk menemukan-Nya di tempat Dia berada? Palungan, tempat Dia berbaring adalah Hati Kita....

 

Ingatlah:

o   Hati kita adalah Palungan-Nya... Hati kita adalah Takhtah-Nya... Janganlah mencari Dia di tempat yang lain....

o   Karena itu... temukan Dia di kedalaman Hati Kita dengan sikap imam yang jujur, polos, tanpa kepalsuan, tanpa pencitraan.... apabila kita mencari Dia dengan kepalsuan dan pencitraan.... kita tidak akan pernah menemukan-Nya...

 

 

 

Selamat Bermenung....

Salam Kasih....

Buon Natale e Buon Anno...

Dio Ti Benedica....

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 



BERLANGKAH DALAN DAN DENGAN PENUH IMAN-HARAPAN,,

Tahun 2026

************************

St. Agustinus berkata: “Setiap saat, ketika kita memasuki Tahun yang Baru, kita sesungguhnya beranjak semakin dekat menyongsong akhirat dan hidup kita di bumi fana ini akan berakhir”. Namun, saya berani berkata kepadamu, saudara....

“Jangan pernah takut bahwa hidupmu akan berakhir dengan bertambahnya waktu (tahun). Kamu harus takut kalau hidupmu tidak pernah dimulai”.

Perkataan ini patut kita renungkan menjelang akhir tahun ini. Mengapa kita tidak boleh takut bahwa hidup ini akan berakhir? Karena....

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh panjangnya usia, tetapi oleh kedalaman dan intensitasnya.

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa lama dan di mana kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalani dan mengisi hidup.

o   Nilai hidup seorang manusia tidak ditentukan oleh kuantitas/rentetan waktu hidup, melainkan oleh kualitas hidup.

Saat ini, kita berada di batas antara tahun yang silam dan tahun yang akan datang. Di tengah malam tadi, tahun 2025 sudah menjadi masa silam dan tidak akan pernah kembali. Di tengah malam ini juga, kita memasuki Tahun Baru, tahun 2026 yang belum terisi... belum dijalani. Namun, di detik awal tengah malam inilah, satu lembaran baru dalam buku kehidupan kita dibuka.

Sebagai seorang beriman, marilah kita membuka dan memasuki Tahun Baru 2026 ini dengan meletakan harapan kepada Allah. Meletakkan harapan berarti mempercayakan celah-celah kehidupan yang gelap dan penuh rahasia ke dalam tangan Allah. Apa yang seharusnya diharapkan?

Sepotong doa ini harus menjadi dasar harapan kita:

Yang saya harapkan:

o   Bukanlah supaya hidup saya bebas dari duka derita,

o   Bukanlah supaya jalan hidup saya ditaburi bunga mawar,

o   Bukanlah supaya tiada air mata yang membasahi pipi saya dan tiada penyakit yang menyiksa saya.

Saya tidak mengharapkan semuanya ini dalam kehidupan saya.

Yang saya harapkan adalah:

o   Supaya saya senantiasa mengenangkan hari-hari bahagia dalam kehidupan saya dengan penuh rasa syukur, 

o   Supaya saya tabah menghadapi semua cobaan dan tantangan, terutama di saat beban hidup saya terasa berat dan disaat sinar harapan meredup dalam diri saya.

Yang  saya harapkan adalah:

Semoga dalam susah dan senang, untung dan malang, senyum cinta, kerahiman dan belas kasih Allah senantiasa menerangi, menuntun dan meyakinkan saya dalam setiap derap langkah kehidupan saya bahwa Allah selalu menghendaki yang terbaik untuk saya.

Saat ini, saya sungguh-sungguh memasuki Gerbang Tahun Baru. Saya pun berkata kepada Malaikat yang berjaga:

Berikanlah kepada saya seberkas cahaya supaya saya bisa berjalan dengan langkah pasti untuk memasuki ketidakpastian hidup di tahun yang baru ini...

Malaikat Menjawab:

Masuklah ke dalam kegelapan dan letakanlah tanganmu ke dalam genggaman tangan Tuhan... Itu jauh lebih baik daripada seberkas cahaya dan jauh lebih pasti daripada jalan yang sudah dikenal...

Dalam kepasrahan, saya berucap:

Saya tidak tahu ke mana Tuhan menuntun saya. Namun, saya percaya bahwa Tuhan pasti dan selalu membuka pikiran dan hati saya saya untuk mengerti bahwa proses kehidupan yang dilalui semua manusia selalu berada pada rel yang sama:

o   Setiap keuntungan membawa serta kerugian,

o   Setiap kelebihan membawa serta kekurangan,

o   Setiap kegembiraan terkandung kesedihan,

o   Dan setiap harapan yang terpenuhi selalu ditantang oleh harapan yang sirnah.

Karena itu, saya harus menerima dengan penuh syukur atas naik turunnya kehidupan ini. Setiap suka dan duka serta untung dan malang dalam hidup ini akan memperkaya saya dengan caranya yang unik:

Saya membutuhkan malam supaya bisa tidur dan menimbah kekuatan baru,... Saya membutuhkan siang hari untuk bekerja, berkreasi dan menciptakan prestasi...

Ini berarti bahwa semua peristiwa hidup yang dialami memiliki makna yang unik dalam seluruh tatatan hidup agar saya menjadi lebih sehat, lebih matang, lebih dewasa dan lebih bahagia.

Oleh karena itu, saya harus bersyukur atas bayangan gelap kehidupan, sebab memiliki makna untuk saya...

o   Saya membutuhkan rasa cemas agar mampu menemukan perspektif baru..

o   Kemacetan dan kegagalan mengajarkan saya untuk bersikap rendah hati dan ikhlas...

o   Penyakit dan sakit menyadarkan saya mengenai pentingnya kesehatan... bahkan sangat mahal harganya...

o   Kelemahan dan ketidakberdayaan mengajarkan saya bahwa saya insan lemah yang selalu membutuhkan bantuan dan topangan Allah dan sesama...

o   Rasa sedih membantu saya untuk mengerti kesedihan dan kedukaan sesama...

o   Saya harus bisa menangis supaya bisa mengerti batin sesama yang tersayat kepedihan...

Dengan penuh rasa syukur, saya pun berdoa kepada-Nya... Tuhan, saya memohon kepada-Mu di awal Tahun Baru ini:

Tinggallah dekat kami supaya kami bisa menjajaki bahwa nama-Mu terpahat dalam sejarah hidup kami, sepanjang hayat kami dan sepanjang masa. Dengarkan suara hati kami, pandanglah duka-derita kami, pikullah juga beban kehidupan kami; berjalanlah mendahului kami untuk menuntun kami supaya kami sungguh-sungguh masuk ke dalam kebebasan dan ke dalam persekutuan dengan semua orang karena kami semua adalah anak-anak-Mu, anak-anak dari Bapa yang satu dan sama...

Selamat memasuki Tahun Baru 2026 dengan semangat kasih dan syukur untuk memulai secara baru. Peganglah prinsip ini: Jangan Pernah Berhenti untuk Memulai dan Jangan Pernah Memulai untuk Berhenti....

 

Buon Anno... 2026

Selamat Tahun Baru 2026.....

Dio Ti Benedica

 

Alfonsus Very Ara, Pr

 

 

 

 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget